Monday, August 19, 2013

Cerita Dewasa 1 - Aku, Sinta, Anna dan Temannya Henny

Cerita Dewasa 1 - Aku, Sinta, Anna dan Temannya Henny | Suatu ketika aku mengambil cuti dari kantor selama seminggu atas bujukan Anna. Saat itu Dicky sedang mengikuti workshop dari perusahaannya selama dua minggu di Jerman. Rupanya Anna sudah berencana untuk berlibur ke Bali dengan mengajakku dan Sinta, keponakannya. Sinta yang juga sedang libur semesteran, tidak menolak. Apalagi ia tahu bahwa tantenya Anna telah menyediakan dana yang cukup bagi kami untuk berlibur. Henny yang kesepian juga ditelepon Anna dan diajak bersama kami.

Kami mengambil dua kamar di sebuah hotel berbintang di Denpasar. Pelayan hotel yang mengira aku dan Anna sebagai suami-isteri menawarkan kamar mewah bagi kami. Kami tidak keberatan dan mengambil president-suite, sedangkan Henny dan Sinta tidak menolak diberikan kamar standar.

Cerita Dewasa - Aku, Sinta, Anna dan Temannya Henny

Hari pertama di sana kami habiskan dengan bermain ke pantai Sanur sambil bercengkerama. Ketiga perempuan itu memakai bikini mandi di pantai bersama-sama denganku. Kami saling menyiramkan air laut dengan canda dan tawa. Sesekali kucubit pantat atau pinggul mereka satu persatu. Mereka yang tak bisa mengejarku, hanya dapat memaki dan berteriak-teriak. Malam harinya kami bertiga menikmati jamuan dinner yang romantis, sebab dengan hanya diterangi oleh cahaya beberapa lilin pada meja-meja dan obor di sekitar kami, para tamu hotel tersebut makan dan minum. Kulihat beberapa turis asing dan turis domestik makan di dekat kami. Kami berempat tidak menghiraukan mereka dan memesan makanan yang kami sukai. Pukul 20 kami memasuki ballroom hotel tersebut dan berdansa diiringi lagu-lagu klasik. Pertama-tama Anna menjadi teman dansaku, kemudian berganti dengan Henny. Sedangkan Sinta sempat berdansa dengan seorang turis asing. Saat berdansa dengan Henny sambil memeluk tubuhnya erat-erat, Anna mendekati kami dan berbisik, “Hen, Gus, yuk kita ke kamar aja …”

“Koq cepet-cepet sayang, udah nggak tahan ya?” goda Henny sambil melirik dengan seulas senyum manis.

Anna mencubit pinggul Henny sambil berkata, “Ah, paling-paling kamu juga ntar yang duluan minta kalau sudah di kamar.” Kulepaskan pelukan pada pinggul Henny dan mengikuti Anna yang sudah berjalan keluar ballroom tersebut. Henny memanggil Sinta dan tak berapa lama kulihat mereka menyusul kami menuju lift hotel tersebut. Di dalam lift, Anna memeluk leherku sambil menciumi bibirku. Kupeluk pinggangnya sambil memagut erat-erat bibirnya. Sinta dan Henny hanya tersenyum sambil berpegangan tangan melihat ulah kami berdua. Kami berjalan di koridor menuju kamarku dan Anna. Setelah menaruh tulisan “Don’t disturb” pada pegangan pintu kamar, kami masuk.

Anna langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang berukuran king size. Henny memegang remote TV dan memilih acara TV yang menarik sementara Sinta masuk ke kamar mandi. Kubuka bajuku dan celana panjang, lalu mengenakan celana pendek dan kaus oblong. Henny duduk di ranjang sementara Anna mulai bangkit dan memegang kedua belah pundak Henny. Dielus-elusnya pundak dan lengan Henny yang agak terbuka lalu mendekatkan bibirnya pada pundak Henny. Ciuman Anna pada pundak Henny membuat Henny kegelian, “Ahhh, geli Ann. Udah dehh.” Anna tidak menghentikan aksinya, tangannya terus beraksi bahkan kini sebelah tangannya merambah ke depan meremas-remas payudara Henny dari balik bajunya sedangkan sebelah tangannya yang lain mengelus-elus pinggul Henny. Henny yang semakin terangsang merebahkan dirinya ke belakang hingga kini ia terlentang sementara Anna berada di atas tubuhnya. Maka bebaslah Anna melanjutkan perbuatannya merangsang Henny. Kini bibirnya dilabuhkan pada bibir Henny. Keduanya berciuman dengan mesra. Jari-jari Anna bergerak mengelus pipi, leher dan dada Henny kemudian berhenti pada payudara Henny yang ia coba keluarkan dari balik bajunya. Henny mendesah sambil menggerakkan pundaknya menurunkan bajunya hingga terbukalah kini pundak dan dadanya. Gaunnya semakin tersingkap dan tangannya sendiri menurunkan gaun itu hingga turun dari pahanya jatuh ke lantai. Tampaklah BH dan celana dalam Henny yang berwarna hitam menerawang. Aku berdiri menonton tingkah laku mereka. Sinta yang sudah keluar dari kamar mandi berseru sambil mengambil tempat duduk di dekat ranjang, “Wah, atraksi sudah dimulai rupanya?”

Jari-jari Henny membalas belaian Anna sambil melakukan upaya melepaskan gaun yang dikenakan oleh Anna. Perlahan-lahan gaun Anna pun berhasil dibuka hingga sebatas pinggulnya. Terlihat kini BH Anna yang berwarna cream. Keduanya sambil berciuman bibir melakukan remasan pada payudara yang lain. Setelah berhasil melepaskan BH satu sama lain, mereka saling menciumi dagu, leher, pundak dan payudara yang lain. Anna kini menciumi payudara Henny dan sesekali menjilat dan mengisap putingnya. Dari bawah, Henny juga melakukan aksi yang tak kalah menarik dengan mengisap payudara Anna. Desahan keduanya semakin meninggi bersamaan dengan semakin terkuaknya gaun Anna. Sinta yang melihat tantenya masih mengenakan gaun mendekati bagian belakang tubuhnya dan membuka risleting gaun tersebut hingga terbuka seluruhnya dan menurunkannya hingga terlihat celana dalam berwarna sama dengan BH-nya. Celana dalam tersebut tidak luput dari aksi Sinta, dengan cepat dan tangkas ia buka. Aksi Sinta kubantu dengan membuka celana dalam Henny sambil mengelus-elus pahanya yang putih. Sinta kemudian menciumi pantat tantenya. Kulihat lidahnya mulai terjulur mencari-cari vagina dan klitoris tantenya yang semakin merintih. Henny yang terlentang dengan kaki masih menapak pada lantai kamar dan tubuh berada di atas ranjang mendapat giliran untuk kurabai paha dan kakinya. Kuarahkan lidah dan bibirku mulai tumitnya. Kuciumi tumitnya dan sela-sela jari-jari kakinya kugelitiki dengan lidahku. Ia semakin menggeliat mendapat perlakuan demikian, apalagi di bagian atas, payudaranya semakin kuat diisap dan diremas oleh Anna. Ciumanku semakin naik ke betisnya, lututnya dan pahanya. Lama berkutat pada pahanya dan kukuakkan lebar-lebar kedua belah pahanya hingga terlihatlah vaginanya yang merah jambu sangat merangsang. Sela-sela pahanya kujilati dengan lidahku dan beberapa saat kemudian barulah kuarahkan lidahku pada klitorisnya yang semakin membengkak. Rintihan Henny semakin kuat saat kujilati klitoris dan labianya. Apalagi saat kukuakkan kedua labianya lebar-lebar ke kiri dan kanan hingga terpentanglah liang vaginanya dan lidahku dengan cepat menerobos masuk ke dalamnya. “Guusss, kau apain memekku, sayang?” jeritnya.

Sinta telah menjilati vagina tantenya dari belakang. Anna mengerang dan mendesah diperlakukan demikian oleh keponakannya sendiri. “Ahhh, kau nakal Sin, kau jahati tantemu sendiri …..”

“Tante nggak suka, biar kuhentikan?” tanya Sinta sambil menghentikan aksinya.

“Nggak, nggak sayang … Tante cuma guyon, ayooo sayang terusin dong …” pintanya.

Sinta kembali menundukkan wajah dan menjilati anal dan vagina sambil meremas-remas pantat Tantenya.

Ujung hidungku menyentuh klitoris Henny saat kujilati vaginanya. Klitoris dan vagina Henny semakin kuat kujilati dan kuisap-isap, sehingga tak lama kemudian Henny menjerit nikmat karena orgasme. Ia mengangkat pinggulnya hingga seluruh permukaan vaginanya memenuhi mulut dan hidungku. Kedua payudaranya habis ditelan bergantian oleh Anna yang juga menyusul dirinya mencapai orgasme. “Ahh, akkkkuuuu ….. aaaakkhhhhh …. nikmattt … Sintaaaa …..” jeritnya sambil menggoyangkan pinggulnya kuat-kuat. Lidah Sinta kulihat ia julurkan dalam-dalam pada vagina Anna.

Baik Anna dan Henny tidak langsung tergolek lemas usai mendaki puncak kenikmatan, melihat Sinta masih berpakaian lengkap, keduanya bangun dan dengan sigap menyerang Sinta. Anna langsung menciumi bibirnya dan meremas-remas payudara Sinta dari luar bajunya sambil membukai gaunnya, sedangkan Henny meraba pinggul dan paha Sinta sambil membantu Anna membuka gaun Sinta. Dengan cepat keduanya berhasil menelanjangi Sinta dan merebahkan tubuh Sinta ke atas ranjang. Henny menciumi paha dan vagina Sinta sementara Anna menciumi bibir Sinta lalu mengangkangi wajah Sinta. Kini vaginanya tepat berada di atas mulut Sinta. Sinta yang baru saja menciumi vagina Tantenya tidak menolak kembali ia menjilati klitoris Anna dan mengisap labia vaginanya. Aku tak tahan melihat pemandangan tersebut apalagi sebelumnya sudah disuguhi aksi hebat dari permainan sebelumnya, segera membuka celana dan kaos, hingga menjadi orang keempat yang bertelanjang bulat di kamar itu. Karena sudah terangsang hebat melihat mereka, aku segera mencari posisi strategis. Kudekati Henny yang masih menciumi dan menjilati vagina dan klitoris Sinta. Kuraba dan kuremas payudaranya sambil menggeser tubuhnya agar beranjak ke samping. Kuciumi vagina Sinta yang sudah basah dan sambil memeluk pundak Henny dengan sebelah tangan, kuarahkan penisku pada vagina Sinta. Tangan Sinta ikut membantu mengarahkan penisku hingga tepat berada di permukaan vaginanya. Dengan suatu tekanan kumasukkan penisku dalam-dalam ke vagina Sinta hingga ia merintih, “Guuussss ….. aaaaakkkhhhhh …..”

Penisku kumaju-mundurkan ke dalam liang vaginanya yang sudah basah. Tanpa kesulitan kugerakkan penisku membuatnya semakin menggeliat. Henny meraba dan meremas-remas payudara Sinta sambil mencium bibir Anna yang juga merintih akibat dikerjai vaginanya oleh Sinta.

“Sinnnnn …. Tante mau dapet lagi nihhhhhh ….” rintih Anna.

“Sama Tante, gila nih si Agus, biasanya aku bisa bertahan lama, ini koq belum sepuluh menit sudah hampir sampai ….. aaakkkkhhhh …. oookkhhh … uuugggh..” desahan Sinta membalas rintihan Tantenya. Remasan jari-jari Henny kini disertai isapan bibirnya pada payudara Sinta, hingga tak lama kemudian kedua perempuan itu mencapai orgasme berbarengan.

Aku melihat geliat tubuh Sinta dan Anna semakin mempercepat gerakanku, terlebih saat penisku diguyur oleh cairan vagina Sinta saat ia mencapai orgasme. Kutarik penisku hingga sebatas lehernya lalu kutancapkan sedalam-dalamnya hingga pangkalnya, membuat Sinta terlonjak kaget tetapi merasa nikmat, “Akkkhhh Gusss …… gila kamu ….” Kuulangi gerakan itu secara beraturan, hingga geliat tubuh Sinta yang sempat mereda setelah mencapai orgasme, kembali meninggi akibat seranganku. Lagi-lagi ia menggoyangkan pinggulnya ke kanan kiri dan sesekali ke atas bawah. Kuingat salah satu gerakan pada Kamasutra, dengan menarik napas dalam-dalam kutarik penisku hingga lehernya lalu kubenamkan hingga pangkalnya. Mulut Sinta semakin kuat meracau, agaknya tak lama lagi ia bakal orgasme kembali, “Guuuus, gila kamu …. Mau kerjai aku lagi ya, padahal …. sssshhhh …. aakkhhhuuu .. sss.. sudah dapet tadi sayangggg…..” desahnya.

Kupegang kedua pinggulnya sambil menghentakkan tubuhku berulang-ulang hingga penisku menusuk dalam ke vaginanya, “Kita bareng ya sayang ???” bisikku sambil meneruskan perbuatanku. “Akkkhhh, Sinnn …. aku dapet sayang!” erangku sambil menghunjamkan penisku sedalam-dalamnya dan menikmati denyutan dinding vaginanya melumat penisku. “Yaaahhh, aku … aaakkkuu .. juga Gusssss…..” rintihnya sembari memelukku dan menancapkan kukunya pada punggungku. Kami berdua berpelukan sangat erat dengan tubuh bersimbah peluh.

Kami berdua lalu berbaring di ranjang tersebut sambil meredakan gejolak napas kami. Henny dan Anna sibuk berdua menjilati cairan kami kemudian mengikuti kami berbaring. Tengah malam Anna minta aku melayaninya dalam posisi berdiri. Henny dan Sinta tertidur lelap ketika kami berdua berpacu dalam nafsu. Karena tadi sudah ejakulasi, aku belum orgasme lagi ketika Anna mencapai orgasme untuk kedua kalinya. Ia kembali membaringkan tubuhnya di ranjang.

Henny yang terbangun sewaktu Anna membaringkan tubuh di sampingnya, melihatku masih berdiri di samping ranjang. Ia bangkit dan menuju kamar mandi. Kudengar suara air kencingnya. Ia kemudian keluar dari kamar mandi dan mengelus-elus pundakku sambil memintaku memberikannya kepuasan. Dengan kedua tangan bertumpu pada ranjang, Henny agak membungkuk menanti seranganku dari belakang. Aku menempatkan tubuh di belakang Henny. Kucari liang vaginanya dan kutusukkan penisku ke dalamnya. Kedua tanganku semula meremas-remas pantatnya, tetapi lama kelamaan kuarahkan ke depan meraih kedua payudaranya. Sesekali kedua pundaknya kupegang agar hentakan penisku dapat maksimal memasuki vaginanya.

“Gus, analku juga dong sayang …” pintanya berbisik.

Kucabut penisku dan kuambil cairan vaginanya ditambah air ludahku lalu kuoles pada penis, sehingga basah dan kini penisku menuju liang analnya. Kugoyangkan perlahan-lahan kepala penis memasuki liang analnya. Gesekanku disambut oleh pantatnya dengan gerakan mundur hingga penisku semakin dalam memasuki analnya. Kini kumaju-mundurkan tubuhku hingga penisku dengan bebas masuk keluar analnya. Jari-jari tangan kiriku kuarahkan melewati bagian depan tubuhnya dan mencari klitorisnya. Kutemukan tonjolan daging lembab yang kuraba-raba lembut dan sesekali kupilin dengan jari-jariku hingga menambah geliat pantat Henny. Sedangkan tangan kananku kuarahkan pada payudaranya, walaupun agak susah sebab sebelah tanganku bermain di sela-sela pahanya.

Tangan Henny kemudian menolakkan tangan kananku. Kulihat ia dengan sebelah tangan bertumpu pada ranjang menggunakan tangannya yang lain meremas-remas payudaranya sendiri. Agaknya ia ingin agar aku mengkonsentrasikan kedua tanganku pada vaginanya. Benar saja, setelah mendapat penolakan tadi, tangan kananku mengikuti tangan kiri menjelajah pada vaginanya. Klitorisnya dan labia vaginanya kuelus-elus. “Gusss, klitorisku jepit yang kenceng sayangg….. aaakhhh” pintanya sambil menggoyang-goyangkan pantatnya dengan gerakan erotis. Kuikuti permintaannya, kupercepat gesekan jari-jariku pada klitorisnya dan jari-jariku yang lain masuk keluar vaginanya.

“Gusss, aku mau orgasme niccchhh. Kamu kuat banget sih?” bisiknya di sela-sela rintihannya. “Masukin vaginaku lagi dong!!! Ssshhh … aaakkhhh …. ooouggghh..” pintanya sambil merintih.

Kucabut lagi penisku dari analnya dan dengan handuk kecil yang ada di dekat kami, sempat kubersihkan penisku dari noda-noda liang analnya. Aku tak ingin vaginanya infeksi karena kotoran dari analnya. Untungnya Anna selalu menyiapkan handuk kering dan basah di ranjang. “Buruan dong Gus, ntar sempat nggak keuber lagi nichhhh…” rajuknya manja demi melihatku masih membersihkan penisku.

“Ntar dulu, biar bersih sayang ….” kataku sambil kembali memasukkan penis ke dalam vaginanya.

“Oooohhhhh … yaaaa .…. gitu sayanggggg …. aaakkkhhh ….” jeritnya.

Kutekan penisku semakin dalam masuk dan keluar vaginanya sambil meremas-remas pinggulnya. Kucari liang analnya yang melebar akibat tusukan penisku tadi. Kuelus-elus dan kumasukkan ibu jariku ke dalam analnya. Aksiku membuatnya semakin terangsang. “Guusss…. aku mau dapet lagi nichhh…. aaaakkhhhh”

“Sabar sayang, aku juga mau dapet lagi. Biar enak, kita sama-sama ya?” kataku sambil menghentakkan penisku sekuat-kuatnya ke dalam vaginanya. Henny menjerit saat kutekan penisku ke dalam vaginanya. Ia berdiam diri menahan penisku dalam vaginanya, tapi kurasakan otot-otot di dalamnya bekerja dengan efektif meremas-remas penisku hingga lontaran spermaku begitu kencang memompakan cairan kenikmatan ke dalam liang vaginanya. Ibu jariku yang ada di dalam analnya turut mendapatkan remasan nikmat akibat bekerjanya otot analnya melakukan gerakan menjepit. Kurebahkan tubuhku di atas punggungnya sambil memeluk erat-erat tubuhnya dan meremas payudaranya. Henny menelungkup di atas ranjang dengan kaki masih menapak lantai dan menikmati penisku yang masih menancap dalam vaginanya.

Kami berdua berbaring bersisian sambil berpelukan. Di sebelah kami Anna dan Sinta tertidur nyenyak. Kuambil selimut menyelimuti kami berempat. Kami pun terlelap sampai pagi.

Pagi harinya kami bangun pukul 8 dan sarapan di restoran hotel. Kami menikmati roti dan sup asparagus sambil bercakap-cakap. Aku yang masih merasa lapar mengambil nasi goreng dengan telur dadar dan mata sapi. Anna yang melihatku tambah menggoda, “Nambah nich ye? Abis kerja bakti ya semalam?” Henny dan Sinta tertawa mendengar candanya.

Kami meminta mobil hotel mengantar kami melihat-lihat ke pasar dan kerajinan tradisional Bali. Tak terasa waktu sudah sore. Kembali kami bermain di pantai dan beberapa kedai kopi hingga matahari terbenam.

Malam harinya kami mencari makanan khas Bali di warung tenda milik penduduk setempat. Puas menangsal perut, kami kembali ke hotel. Pelayan hotel menawarkan kami untuk berdansa, tetapi Anna menggelengkan kepala. Tarian tradisional yang disuguhkan untuk tamu yang berkunjung lebih menarik minat Anna dan keponakannya walaupun Henny tak begitu tertarik, sehingga kami berempat memasuki ruang tari tradisional yang menampilkan penari-penari cantik Bali.

Kira-kira satu setengah jam menikmati suguhan tersebut, kami kembali keluar ke lobby hotel. “Gus, tanyain dong, ada nggak bioskop untuk orang dewasa di sini?” bisik Anna. “Tanyain petugas hotelnya dong?” Aku melangkah tapi Anna menarik bajuku dan berbisik, “Gus, kalau si petugas itu mau, sekalian ajak nonton ya?”

Aku tersenyum, mencoba menebak apa yang ada dalam pikiran Anna. “Hmm, mungkin melihat manisnya resepsionis itu, ia mau coba-coba memberikan pengalaman baru padanya,” pikirku. Kudekati resepsionis manis yang langsung menyapaku, “Ada yang bisa saya bantu, Pak?”

“Begini nona cantik, istri saya ingin nonton film, tapi tidak mau jauh-jauh. Apakah ada film dewasa yang cukup bagus untuk kami tonton di sini?” kuajukan permintaan sambil melirik papan nama yang tertera di dada sebelah kanannya. “Ayu,” nama yang indah seindah pemiliknya, batinku sambil menatap wajahnya yang menampilkan keaslian gadis Bali dengan rambut dikepang dua.

“Oh, ada Pak. Tapi biasanya ada biaya khusus untuk itu dan ruangannya agak terbatas. Bapak tidak keberatan untuk membayar lebih?” katanya agak berbisik.

“No problem, Non. Saya ingin istri saya dan kedua teman kami puas selama kami di sini.”

“Baik Pak. Silakan ikut saya,” katanya sambil memberi tanda agar temannya menggantikan dirinya karena mengantarkan kami ke ruangan yang ia katakan.

Kulambaikan tanganku ke arah Anna, Sinta dan Henny agar mengikutiku dan sang nona resepsionis tadi. Aku melangkah cepat menjejeri si nona, “Ayu yang manis. Apakah hanya kami yang nonton atau ada orang lain juga?” bisikku.

“Yah, itu tergantung permintaan Bapak. Kalau Bapak mau, bisa saja mengajak orang lain, tetapi jika tidak, cukup berempat, sebab ruangannya hanya disediakan enam kursi.”

“Apakah tugas Ayu bisa digantikan temanmu supaya bisa nonton bersama kami berempat?” tanyaku agak hati-hati.

“Wah, gimana ya Pak?” katanya sambil memperlambat jalannya. “Tapi nggak apa-apa deh, demi kepuasan tamu, saya akan minta teman saya untuk gantikan tugas saya. Asal tidak lama-lama ya Pak?”

“Nggak usah lama-lama, kan cukup satu film saja,” kataku.

“Oh ya,” Ayu bertanya padaku, “Pak, kategori apa yang mau ditonton?”

“Maksudnya kategori gimana?” tanyaku berlagak bodoh.

“Ah, Bapak nggak usah pura-pura deh. Maunya film yang satu X, dua X atau triple X? Gitu lho, Pak” katanya agak manja sambil menggerakkan lidah membasahi bibirnya.

“Yang triple aja deh non Ayu, biar ntar malam syur waktu kami di kamar,” kataku sambil mencubit pantatnya.

“Ihhh, Bapak genit, ntar ketahuan Ibu lho,” katanya sambil menoleh ke belakang, tetapi ia merasa aman sebab kami sudah berbelok dan tidak tampak oleh Anna, Henny dan Sinta.

Kami pun berjalan dan setelah memasuki beberapa lorong berliku-liku, kami sampai di suatu ruangan kecil ber-AC, hanya ada enam kursi di dalamnya, di bagian depan terdapat TV layar lebar. Keenam kursi itu sangat empuk, masing-masing memiliki lengan kursi, mirip kursi bioskop, tetapi lebih mewah. Setelah kami berempat mengambil tempat di kursi yang tersedia, Ayu mencari-cari film di rak di sebelah TV tersebut lalu memencet tombol play pada remote control yang ia pegang. Aku duduk di samping Anna, sedangkan Henny bersebelahan dengan Sinta. Keenam kursi tersebut terletak berjejer. Kini tinggal dua kursi kosong, di sebelah Sinta dan satu lagi di sebelah kiriku. Ayu beringsut ingin duduk di samping Sinta, tetapi tangannya ditarik oleh Anna, “Non, duduk di sini aja,” sambil menolak tubuhku menduduki kursi kosong di sebelah kiriku, sedangkan Ayu kini diapit olehku dan Anna di sebelah kanannya. Kulihat Ayu mengambil handphone-nya.

“Lho, mau sms siapa, Non?” tanya Anna.

“Anu Bu, tadinya kan saya hanya mengantar Bapak Ibu kemari. Teman saya tidak tahu kalau saya jadi ikut menemani di sini. Saya kabari dulu agar ia tidak mencari saya dan dapat menggantikan sementara tugas saya.”

“Ooohh gitu tokh, silakan saja,” kata Anna.

Tak berapa lama kudengar suara khas dan kulirik Ayu mengambil handphonenya, dan menggumam, “Ok, teman saya sudah membalas sms saya, tidak masalah, katanya.”

Film yang kami tonton mengisahkan tentang seorang raja yang mempunyai permaisuri cantik. Agaknya berbau India, tetapi pemainnya ada yang bule, ada juga orang India dan Asia lainnya. Romantisme sang raja dan ratu digambarkan lewat adegan seks yang lembut. Mula-mula kupikir Ayu memperdaya kami dengan film X satu, tetapi rupanya hanya adegan awalnya yang kelihatan agak tertutup. Ketika sang raja dibagian berikut digambarkan bermain dengan tiga orang selirnya tampak bagaimana penisnya dikulum ketiga selir tersebut. Kulihat di kegelapan ruangan Sinta dan Henny sudah semakin mendekatkan kursi mereka dan tangan keduanya saling menggenggam. Anna sesekali melirik Ayu yang duduk semakin gelisah di antara aku dan Anna. Sewaktu sang raja menyetubuhi salah seorang selirnya sementara kedua selir yang lain merabai dan menciumi payudara selir yang disetubuhi itu, kulihat tatapan mata Ayu semakin sayu dan tangannya yang tadinya memegang remote kini mengarahkan remote tersebut ke pangkal pahanya dan terkadang menjepit remote tersebut.

Bersambung ... KLIK DISINI Cerita Dewasa 2 - Aku, Sinta, Anna dan Temannya Henny

No comments:

Post a Comment

Popular seribu