Monday, August 19, 2013

Cerita Dewasa 2 - Aku, Sinta, Anna dan Temannya Henny

Cerita Dewasa 2 - Aku, Sinta, Anna dan Temannya Henny | Anna yang melihat gelagat Ayu, memegang tangan kanan Ayu dan mengelus-elus jari-jarinya dengan lembut. Ayu agak tersentak diperlakukan demikian, “Bu, ahhh, jangan …” bisiknya perlahan mencoba menarik tangannya. Anna menahan tangan Ayu dengan kedua tangannya, “Nggak apa-apa manis, apakah kamu kujahati?” Ayu tidak berani membantah dan membiarkan tangannya dielus-elus Anna. Perlahan-lahan Anna mengangkat jari-jari Ayu ke dekat wajahnya dan menciumi jari-jari tersebut. “Ssshhhh … aaaahhh …” kudengar nafas Ayu. Di sebelah sana Henny dan Sinta sesekali berpagutan, keduanya tidak lagi sepenuhnya melihat ke layar film. Aku masih mengarahkan mata melihat ke layar film, tetapi sesekali melirik ulah Anna dan kedua perempuan di sebelah sana. Kulihat kini Anna mulai memasukkan jari telunjuk kanan Ayu ke dalam mulutnya dan melakukan gerakan mengisap. “Ohhhh ….” desahan Ayu kembali terdengar lirih.

Di layar kulihat bagaimana sang raja menyetubuhi ketiga selirnya secara bergantian. Sang ratu mengintip dari celah-celah pintu melihat bagaimana suaminya memuaskan ketiga selir itu. Terlihat wajahnya memendam nafsu dan rasa penasaran. Rintihan dan jeritan ketiganya semakin kuat di dalam ruangan kecil tersebut, hingga menambah rangsangan pada kami berlima yang ada di situ.

Cerita Dewasa 2 - Aku, Sinta, Anna dan Temannya Henny

Bergantian jari-jari tangan kanan Ayu dimasukkan oleh Anna ke dalam rongga mulutnya. Tangan kiri Anna bergerak meraba-raba paha Ayu. Tanganku ikut merambah mendekati paha kiri Ayu, “Paaakkk, jangannn ….” desisnya sambil merapatkan kedua pahanya. Remote yang tadi ada di celah-celah pahanya kini sudah terjatuh ke lantai. Anna yang melihat penolakan Ayu bangkit dan mendekatkan wajahnya kepada Ayu. Dengan agak membungkuk, Anna mencium bibir Ayu yang sempat melakukan gerakan penolakan. “Mmmpppfff …. oooohhh …. Buu …. ssshhh.” Penolakannya tak menghasilkan sesuatu yang berarti, sebab kedua tangan Anna sudah memegang kedua pipinya hingga tak bergeming menerima lumatan bibir Anna. Lidah Anna terjulur masuk ke dalam rongga mulut Ayu dan beberapa pagutan liar Anna membuat Ayu semakin terlena. “Jaaanngaaan Bu, Ahhhh ….. ooohhh … ja…… …. ssshhhh …. uuukkkhh …” kini rintihan penolakannya sudah berganti dengan sambutan dan kuluman membalas ciuman Anna. Apalagi sewaktu jari-jari Anna bermain pada payudaranya, hingga Ayu mengerang lebih kuat lagi. Jari-jariku yang sempat kutarik dari atas paha Ayu, kembali mengelus-elus pahanya dan kuarahkan ke bawah mencari jalan masuk dari balik roknya ke pangkal pahanya. “Sssshhhh …. Pakkk …. aaakkhhh… Buuu” desisannya semakin tak beraturan.

Adegan berikut di layar sempat kulihat mengisahkan bagaimana sang ratu disetubuhi sang raja dengan doggy style dengan disaksikan oleh dua orang selirnya. Kedua selir itu mula-mula hanya menonton, tetapi kemudian saling berpelukan dan main 69, hingga menambah rangsangan bagi sang raja dan ratu. Setelah itu sang raja meminta mereka berdua meremas-remas payudara ratu dan menciumi bibirnya sambil menelentangkan sang ratu dan kembali menyetubuhinya. Kedua selir tersebut masih mengikuti perintah sang raja, tetapi ketika melihat permainan raja dan ratu, keduanya semakin liar. Yang satu mengangkangkan paha dan menaruh vaginanya tepat di atas wajah ratu sehingga sang ratu mencium dan menjilati vaginanya. Yang lain mengambil posisi nungging membelakangi sang raja dan memintanya menjilati vaginanya dari belakang. Lalu kedua selir itu saling berciuman dan meremas-remas payudara satu sama lain, sambil sesekali yang vaginanya ada di atas wajah ratu meremas-remas payudara dan puting ratu.

Adegan di layar itu menambah giat jari-jariku mencari celah-celah masuk ke dalam vagina Ayu. Kusingkapkan roknya hingga terlihatlah pahanya yang mulus di keremangan ruangan itu. Anna membantuku, mencari-cari risleting rok Ayu sambil terus menciumi bibir Ayu. Beberapa kancing baju Ayu sudah mulai terbuka dan sambil terus memagut bibir dan lehernya, Anna perlahan-lahan membuka baju Ayu. Aku mencoba menurunkan roknya setelah risleting rok tersebut dibuka Anna. Anna menarik lengan Ayu agar berdiri sejenak, lalu roknya kuturunkan tanpa kesulitan berarti. Kini Ayu hanya mengenakan BH dan celana dalam. Di sebelah sana kulihat Henny dan Sinta masih terus berciuman, tetapi baju keduanya sudah terbuka di bagian atas. Ayu sempat kulihat melirik ke arah Henny dan Sinta, tetapi kemudian menutup kelopak matanya sambil menikmati perlakuan Anna dan aku terhadap dirinya. Kuelus-elus celah-celah paha Ayu dan kurasakan rambut-rambut halus vaginanya. Kucari klitorisnya dengan jari telunjukku. “Ahhhh …. Pakkkkk … Shhhhh …. ooooohhhhhh …..” desisnya merasakan klitorisnya kuraba. Vaginanya mulai basah oleh rangsangan hebat yang kami hadiahkan padanya.

Adegan di layar kini memperlihatkan bagaimana sang ratu dihantam oleh sang raja dengan berbagai pose. Doggy style, monyet menggendong anak, teratai, scissors style, dan beberapa pose lain. Sang ratu menjerit-jerit karena nikmat dan kelelahan. Apalagi kedua selir tadi turut membantu raja mengerjai sang ratu. Setelah itu barulah sang raja menggilir kedua selir tadi.

Ayu semakin tak menentu duduknya merasakan kenikmatan mulai menguasai dirinya, terlebih lagi sewaktu aku membungkuk dan membuka kedua belah pahanya dan menciumi vagina dan klitorisnya. Rintihannya semakin tinggi akibat ulahku ditambah aksi Anna pada payudaranya. Aku memusatkan perhatian pada vagina dan klitoris Ayu. Rambut vaginanya tidak terlalu banyak, tetapi tampak rapi dicukur, dan baunya harum. Melihat bentuknya sekilas kuduga ia masih perawan, tetapi aku tak berani berspekulasi, “Kita buktikan nanti,” pikirku. Klitorisnya kuelus-elus dan kuciumi lembut. Sesekali kuisap, kusedot dengan berbagai gaya yang memabukkan dirinya. Geliatnya semakin menghebat. Kulirik sejenak, ada dua pasang kaki kini berdiri di samping kami. Rupanya Henny dan Sinta sudah mendekati kami bertiga. Dalam keadaan baju yang juga tak sepenuhnya lagi rapi, keduanya turut merangsang Ayu. Kedua payudara Ayu diserang oleh mulut, bibir dan lidah Henny dan Sinta, sedangkan bibir Ayu tetap berada di bawah kekuasaan Anna.

Lidahku terus bermain pada klitoris Ayu, kemudian kedua tanganku menguakkan labia vaginanya lebar-lebar hingga aroma khas menerpa hidungku. Kumasukkan lidahku sedalam-dalamnya, “Ooooohhhhhhh …….” jerit Ayu membahana di ruangan tersebut. Rintihannya semakin kuat ketika kumainkan lidahku dengan berbagai jurus maut, menusuk, mengisap, menyedot, membelai, mengait-ngait, dan menggetar-getarkan. Cairan vaginanya semakin banyak membasahi mulut dan lidahku. Beberapa kali pinggulnya bergerak maju mundur seolah-olah meminta lidahku masuk lebih dalam. Aku tak mau memasukkan jari-jariku ke dalam liang vaginanya, khawatir ia masih perawan, sayang rasanya jika keperawanannya hilang oleh jari-jariku dan bukan penisku.

Sinta berjongkok di dekatku dan membukai celana panjang sekaligus celana dalamku. Kemudian ia menarik tanganku agar berdiri sementara ia berjongkok di depan pahaku. Dielus-elusnya rambut kemaluanku, juga testisku. Kemudian lidahnya mulai menjilati sela-sela pahaku, testisku hingga ke arah anusku, lalu mengarah ke pangkal penisku. Tangannya menuntut penisku ke arah bibirnya. Ia ulas-ulas kepala penisku dengan lidahnya. Payudara Ayu terus diremas oleh Henny dan kini Anna turut meremas-remas sambil membuka BH-nya. Ciuman Henny dan Anna bergantian membuat bibir Ayu tak sempat beristirahat. Di sela-sela pagutan Henny dan Anna, kulihat Ayu sempat menatap penisku dikulum dan dijilati oleh Sinta. Jari-jari Anna di sela-sela paha Ayu turut menambah birahinya. Ia tidak hanya melihat film yang ada di hadapan kami, tetapi juga melihat live show yang dipertontonkan oleh Sinta dan aku, sambil menikmati remasan, kuluman dan ciuman Henny dan Anna. Desahan Ayu semakin kuat, tak menentu.

Kulihat Anna menarik kedua belah paha Ayu dan meletakkannya ke lengan kursi dan menggantung ke bawah. Kini Ayu dalam posisi duduk tetapi mengangkang dengan kedua kaki berjuntai ke bawah. Anna masih terus meremas-remas payudara Ayu sambil terus menciumi bibirnya, sedangkan Henny mengelus-elus paha Ayu. Kulihat tangan dan jari Anna disela-sela kesibukannya memberi kode padaku agar mendekati mereka. Kulepaskan penisku dari kuluman Sinta dan kudekati kursi tempat Ayu duduk. Aku menempatkan tubuhku persis di depan Ayu. Kedua kaki Ayu kemudian ditarik oleh Sinta dan Henny hingga mengangkang, tetapi posisi vaginanya yang merangsang semakin dekat pada penisku. Kuelus-elus vaginanya hingga ia kembali merintih, “Oooohhh ….. Pakkkk …..”

“Tenang sayang, kami akan memberikanmu pelajaran indah yang takkan kau lupakan seumur hidupmu …” kataku sambil mendekatkan penisku pada vaginanya.

Kepala penisku kugesek-gesekkan pada permukaan vaginanya hingga kurasakan cairan vaginanya mulai membasahi penisku. Kucoba mencari klitorisnya dengan menekan-nekan kepala penisku agak ke atas belahan vaginanya. Kelopak mata Ayu agak membuka mengintip perbuatanku terhadap vagina dan klitorisnya sambil terus merintih. Kuelus-elus klitorisnya dengan memakai kepala penisku, hingga kulihat geliat pinggulnya semakin tak beraturan. Anna masih terus meremas-remas payudara dan menciumi bibirnya, sedangkan Henny dan Sinta sambil memegangi kedua belah paha Ayu, melakukan belaian dan usapan yang semakin menambah kuat desahan dan rintihannya. Setelah puas mengerjai klitorisnya, kuarahkan penisku ke celah-celah vaginanya. Kuoles-oleskan kepala penis hingga sebatas lehernya membelai labia kiri dan kanannya bergantian, lalu kumasukkan pelan-pelan ke dalam liang vaginanya. “Oooouuuggghhhh …. aaaaahhhh … Pak,” desisnya sambil meliuk-liukkan tubuhnya, apalagi puting payudaranya kini diisap lagi oleh Anna. “Sssshhhh ….. aaaaahhhhh … Buuuuu …… aaauuuhhhkkkk …”

Penis kumasukkan semakin dalam, tetapi agak mengalami sedikit kesulitan. Aku berpikir, tentu selaput daranya belum koyak, artinya Ayu masih perawan. “Wah, benar-benar beruntung, bisa mendapat keperawanan seorang gadis Bali dibantu oleh teman-temanku,” pikirku.

“Paaakkkk, sakkkkittt …. ooookkhhhh … pelan-pelan Paaakkkk …. ssshhhh ….” rintihnya. Kulihat sedikit air mata menetes turun dari kedua kelopak matanya yang agak tertutup. Anna terus mencium bibir Ayu. Kuperhatikan wajah Ayu, ada setetes air mata turun dari kelopak matanya yang agak menutup. Kudekati wajahnya dan kucium kedua kelopak mata tersebut bergantian. Setelah itu, kucium lembut bibirnya. Apakah karena aku lelaki, sedangkan tadi yang menciumi dia perempuan, aku tak mengerti, tetapi kurasakan ciuman Ayu ini begitu mesra menyambut ciumanku. Bahkan lidahnya memasuki rongga mulutku dan mengait-ngait lembut lidahku dan menggelitik langit-langit mulutku. Sesekali kuisap lidahnya, sehingga ia memeluk rapat-rapat punggungku. Payudaranya masih diremas-remas oleh jari-jari Anna yang kini terjepit di antara dadaku dan payudara Ayu.

“Masih sakit, Non?” bisikku sambil memaju-mundurkan penisku ke dalam vaginanya.

“Nggak Pak, lagi Pak … aaaahhhh, yaaahhhh gitu Pak ….. Udah enak Pak … sshhhh …. ooohhhhh ….,” rintihnya sambil memeluk erat-erat leherku. Kurasakan denyutan vaginanya semakin kencang menyedot penisku. Tentu tak lama lagi ia bakal mencapai puncak kenikmatan.

“Aaaaaahhhhh ….. oooooouugggghhhh ….. sssssshhhhh ……. ” jeritan Ayu terdengar kuat menyaingi suara rintihan film yang masih terus berjalan. Sempat kulirik tayangan film memperlihatkan bagaimana sang raja kembali merangsek sang ratu, dibantu oleh dua selirnya mementangkan lebar-lebar paha isterinya dan menghunjamkan penisnya dalam-dalam. Kedua kaki sang ratu terbuka begitu lebar sedemikian rupa dan kedua selir tadi membengkokkan lututnya sambil berlutut di dekat sang ratu. Secara bergantian keduanya menaruh vaginanya di atas wajah sang ratu sambil meremas-remas payudaranya. Kemudian sang raja berdiri sambil menarik kedua kaki sang ratu, dengan penisnya tetap menancap pada vagina ratu. Kini tubuh sang ratu agak melengkung dengan kepala terletak di lantai berkarpet, di mana ia dapat melihat bagaimana penis suaminya masuk keluar vaginanya yang ada di atasnya. Kedua belah pahanya dikuakkan lebar oleh suaminya yang kini tidak hanya menghunjamkan penis ke vaginanya, tetapi berganti-ganti memasuki anal dan vaginanya, membuat sang ratu memekik-mekik kenikmatan. Setelah itu sang raja menusuk anal sang ratu dengan posisi menungging lalu membalikkan tubuh sang ratu hingga rebah terlentang di atasnya lalu bergantian kedua selirnya memasukkan dildo ke dalam vagina sang ratu yang menjerit-jerit hingga mengalami orgasme berkepanjangan. Saking hebatnya orgasme sang ratu, air seninya turut muncrat bersamaan dengan cairan vaginanya. Ayu sempat melirik ke layar melihat adegan itu.

Penisku semakin cepat menggempur vagina Ayu yang makin basah. Kesulitan yang kualami tadi tak lagi terjadi, setelah selaput daranya berhasil kutembus. Dengan suatu hentakan dahsyat kutekan penisku sedalam-dalamnya menerobos liang vaginanya, membuat Ayu menjerit, “Aaaaaaaahhhhhhh……” Dipeluknya aku erat-erat sambil mencium bibirku tanpa dapat kulepaskan. Denyutan dinding vaginanya berlangsung beberapa saat, seperti mpot ayam meremas-remas penisku hingga aku mengerang mengikutinya mendaki puncak kenikmatan, “Ooohhh, Ayuuuuuu …. nikmat …. ssshhh …. sayanggggg….” Kami berdua masih berpelukan lalu kulepaskan penisku dari vaginanya sambil menoleh melihat pada Anna, Henny dan Sinta yang berdiri di dekat kami berdua. Anna mengambil sapu tangan dan membersihkan bercak-bercak yang ada di paha Ayu. Sempat kulihat sekilas ada noda merah. Ketiganya tersenyum melihatku sedangkan Ayu tersipu-sipu sambil mengambil pakaiannya dan mengenakannya kembali. Anna, Henny dan Sinta memperbaiki pakaian mereka dan duduk kembali menatap film yang diputar. Tampaknya film itu hampir usai, sebab sang raja sedang duduk melihat sang ratu meredakan napas sambil pahanya dibersihkan oleh para selirnya. Anna berbisik pada Ayu, “Bagaimana Ayu, enak kan?”

“Ya Bu. Tapi koq Ibu tidak marah, suami Ibu main dengan saya di depan Ibu?”

“Nggak apa-apa sayang, aku malah senang melihatmu bisa memuaskan suamiku,” bisik Anna sambil membelai-belai wajah Ayu dan meraba bibir Ayu serta mencium bibir Ayu lagi. “Aku minta no. HP-mu ya, karena mau menghubungi kamu besok untuk memberikan hadiah atas pelayanan yang kau berikan.” Ayu menyebutkan no. HP-nya dan disimpan oleh Anna pada HP-nya.

“Besok kamu bisa minta ijin tidak bekerja, sayang?” tanya Anna lagi pada Ayu.

“Saya off besok, Bu.”

“Ok, kalau begitu, kamu bisa temani kami belanja besok siang ya?” pinta Anna sambil mencium kedua pipi Ayu. Ayu mematikan film yang kami tonton di sela-sela permainan panas kami yang berakhir pada terenggutnya keperawanan Ayu olehku dan menuju lobby hotel. Sambil melambaikan tangan pada Ayu yang menuju lobby untuk melanjutkan tugasnya, kami berempat masuk ke dalam lift menuju kamar. Hanya kami berempat di dalam lift itu menuju lantai di mana kamar kami berada.

“Gila lu Gus, bisa dapet keperawanan gadis Bali,” tukas Henny.

“Tauk nih cowok, beruntung banget ngikut kita liburan. Dapet tiga veggy gratis ditambah bonus satu selaput dara,” ujar Anna menimpali.

“Walaupun gitu, ntar malam kamu harus bisa memuaskan aku, ya Gus,” celetuk Sinta sambil memeluk pinggangku dan mencium bibirku. Kami keluar lift dan berjalan di koridor. Sinta dan Henny berbelok menuju kamar mereka sedangkan Anna memeluk pinggangku sambil menuju kamar kami. Sesampainya di kamar, telepon berdering, Anna mengangkat telepon tersebut, dan kudengar menjawab, “Gimana honey, kamu baik-baik aja?” Kupikir tentulah Dicky yang menelepon. “Ya, kami tadi nonton tarian tradisional di hotel, ini baru masuk kamar. Kami puas. Banyak cerita dech, pokoknya kalau balik ke Jakarta, kami bawain oleh-oleh yang banyak,” sambungnya. “Oh ya, dia ada nich, mau bicara?” tanya Anna sambil memberikan gagang telepon kepadaku.

“Ada apa, Bung?” tanyaku sambil mendekatkan telinga ke telepon.

“Gimana Gus, bini gue udah ada tanda-tanda hamil belum?” tanya Dicky.

“Waduh mana kutahu Dick, aku kan bukan dokter kandungan? Tapi yang jelas, nafsunya makin hebat belakangan ini, sampai kewalahan aku dibuatnya,” jawabku.

“Emang tuh, aku juga heran. Sebelum berangkat ke luar negeri, ia minta kulayani tiap malam, sampai kering rasanya lututku, ha … ha … ha … Apalagi kamu ya, bukan cuma dia, tapi masih ada dua wanita lain jadi dayang-dayangmu?” katanya lagi.

“Ngeri Dick, rasanya habis tubuhku diperas mereka bertiga, apalagi Anna, seakan tak ada puasnya. Aku minta pensiun nich….” kataku. Mendengar kata-kataku, Anna mendekat sambil mencubit pinggangku kuat-kuat. “Addduuhhh …” jeritku.

“Ada apa, Gus?” tanya Dicky.

“Ini lho, istrimu yang luar biasa, tidak terima ucapanku. Sampe biru pingganggku dicubitnya,” kuadukan Anna pada suaminya. Anna mendekatkan telinganya ke gagang telepon dan berbisik, “Say, udah malam nich, jangan lupa istirahat yang cukup ya biar fresh kalo pulang ke Jakarta, kita main rame-rame sayang …”

“Ya, ya, ya … Aku siap menerima tantanganmu sayang, tapi bilang pada Agus, jangan lupa menjemputku di bandara ya? Ok, salam buat Sinta dan Henny yang sexy ya! Mmmmuahhh,” kata Dicky menutup percakapan. “Selamat malam, sayang,” timpal Anna.

Baru saja gagang telepon diletakkan, sudah berbunyi lagi, “Koq lama banget bicara apa siapa sih, teleponnya sibuk terus?” tanya Sinta dari seberang sana. Kujawab, “Barusan Om kamu telepon nanyain kamu.”

“Idihhh bisa aja, paling kangen ama Tante dan Tante Henny,” kudengar suara Sinta bernada kesal. “Kami mau ke kamar kalian. Gimana, masih terima tamu, nggak? Kalau nggak, biar kami keluar aja jalan-jalan sampai pagi?”

“Gila, kalian mau ditawar ama turis-turis asing?” tanyaku, “Ya udah, datang aja kemari, pake nanya segala.”

“Ya deh,” jawab Sinta sambil menutup pembicaraan.

Tak berapa lama pintu kamar diketuk, kubuka pintu dan kulihat Henny dan Sinta berdiri di depan pintu dengan pakaian tidur yang agak tipis. Kutarik tangan keduanya, “Kalian apa-apaan sih, koq pakai baju gitu, ntar dilihat orang, bakal curiga tuh?”

“Biarin aja, sekali-sekali bikin heboh,” kata Henny sambil melangkah masuk dan menaruh pantatnya di sofa.

Anna yang berbaring dengan pakaian tipis hanya tersenyum simpul melihat keduanya.

Sinta yang masih berdiri di dekatku memeluk pinggangku dari belakang sambil menutup pintu kamar. Aku berjalan ke arah ranjang dan mengambil remote TV. Kucari siaran tengah malam. Seperti biasa, hotel itu menyediakan tayangan khusus dewasa baik film dari channel tertentu maupun video yang disalurkan spesial bagi tamu di kamar yang meminta. Video yang diputar masuk kategori X satu, hingga kucoba mencari film di saluran tertentu. Saluran dari beberapa stasiun TV di Eropa dan Vietnam menayangkan blue film. Kupilih yang ada ceritanya agar tidak membosankan jika hanya melihat orang yang begitu ketemu langsung saling cium dan bersetubuh.

Henny mengambil bantal dan meletakkan tubuhnya menelungkup di samping Anna, sedangkan aku di sisi lain tubuh Anna berbaring menelungkup dengan Sinta menindih punggungku dalam posisi sama-sama menelungkup. Kami berempat nonton film yang memperlihatkan seorang perempuan yang bertemu dengan mantan suaminya ketika berjalan-jalan di suatu taman rekreasi. Suaminya mengajak pria yang menjadi mantan suaminya ke villa tempat mereka menginap. Mereka makan malam bersama dan main kartu. Sesekali suaminya mencium si istri di depan mantan suaminya. Melihat mereka berciuman dan kadang si suami meremas-remas payudara istrinya, si mantan suami hanya dapat menelan ludah. Apalagi saat mantan istrinya itu mengajak suaminya ke kamar dan membiarkan dia sendirian di ruang tamu. Keduanya masuk kamar saling berpagutan bibir dan berpelukan lalu berbaring di ranjang dalam keadaan telanjang tanpa peduli si mantan suami perempuan itu mengintip dari balik daun pintu yang sengaja agak terbuka. Keduanya bercinta dengan ganasnya. Saking tidak tahannya, sang mantan suami yang melihat kemolekan mantan istrinya, beranjak memasuki kamar dan melihat mereka bercinta dengan berbagai gaya. Pada klimaksnya, si suami mencabut penis dari vagina istrinya dan meminta si istri melumat penisnya hingga ejakulasi di mulutnya. Setelah itu sang suami meminta mantan suami istrinya melayani istrinya. Tanpa dikomando dua kali, ia segera membuka seluruh pakaiannya dan naik ke ranjang bercinta dengan mantan istrinya itu, sementara pria yang satu lagi memberi penisnya dilumat mulut istrinya. Jadilah kedua “mulut” si perempuan dimuati oleh penis suami dan mantan suaminya. Orgasme demi orgasme dilampaui ketiga orang itu.

Sinta sudah mulai bereaksi saat melihat film itu. Jari-jarinya tak berhenti mengelus-elus seluruh tubuhku. Ia berupaya meraba penisku yang tertekan di bawah tubuhku. Aku berbalik terlentang hingga ia bebas melakukan aksi terhadapku. Henny dan Anna hanya melihat kami berdua sambil terus menonton film di TV.

Sinta tak sabaran lagi membuka celana pendekku dan melumat penisku sambil merebahkan wajahnya pada perutku. Kuelus-elus rambutnya sambil perlahan-lahan meraba payudaranya. Ia mengerang saat kutemukan dan kupelintir putingnya bergantian kiri dan kanan. Dijilatinya kepala penisku, batangnya hingga ke pangkalnya, dan kedua testisku bergantian ia masukkan ke mulutnya dan dikulum beberapa saat sambil meraba-raba pahaku dan mengelus-elus lubang analku. Kemudian ia masukkan penisku ke dalam mulutnya hingga pangkalnya. Tidak puas dengan rebah sambil melakukan hal itu, ia beringsut dan setengah membungkuk mulai memasuk-keluarkan penisku dalam mulutnya hingga kurasa penisku semakin membengkak dan rasa hangat mulai menjalari ubun-ubunku. Agaknya tak lama lagi Sinta akan melanjutkan ulahnya. Dugaanku tak salah, sebab dengan gerakan cepat, Sinta membuka gaun tidurnya bahkan celana dalam dan BH-nya, lalu dengan menghadap ke arahku, ia berjongkok di atas perutku, memegangi penisku dan memasukkannya ke vaginanya. Terasa olehku penisku mulai memasuki relung vaginanya yang basah. Beberapa tetes cairannya bahkan kurasakan pada pahaku. Barangkali ia sudah sangat horny. Dengan bertumpu pada kedua tangannya yang ia letakkan di atas perutku, Sinta menaik-turunkan tubuhnya di atas perutku hingga penisku leluasa masuk-keluar vaginanya. Sedotan vaginanya pada penisku terasa amat kencang, pertanda ia sudah benar-benar dilanda birahi. Desahannya semakin kuat ketika kedua tangan kugunakan untuk meremas-remas payudara dan putingnya. “Lho, lho, live show-nya sudah mulai ya?” tukas Henny melihat kami berdua. Anna hanya tersenyum melihat keponakannya menguasai diriku, sambil jari-jemarinya ia gunakan mengelus-elus payudara Henny dari luar baju tidurnya. Henny membalas dengan elusan jari-jari pada lengan dan pinggul Anna.

Gerakan Sinta semakin cepat dan rintihannya berpadu dengan suara perempuan yang bermain melawan dua pria film di TV. Sesekali kuangkat pinggulku agar penisku masuk lebih dalam ke vaginanya. Hal itu membuat Sinta semakin tak kuasa lagi menahan diri, berulang kali ia gesek-gesekkan vaginanya menelan penisku. Bukan hanya naik turun, ia pun menggoyang-goyangkan pinggulnya ke kanan dan kiri, bahkan sesekali memutar hingga penisku benar-benar tidak bisa melakukan perlawanan berarti selain pasrah terhadap aksi vaginanya. Penisku terasa semakin basah dan pangkal pahaku semakin becek oleh cairan yang menetes dari vaginanya.

Bersambung... KLIK DISINI Cerita Dewasa 3 - Aku, Sinta, Anna dan Temannya Henny

No comments:

Post a Comment

Popular seribu