Monday, August 19, 2013

Cerita Dewasa 3 - Aku, Sinta, Anna dan Temannya Henny

Cerita Dewasa 3 - Aku, Sinta, Anna dan Temannya Henny | Henny dan Anna lalu mendekati Sinta, yang satu menciumi bibir Sinta, sedang yang lain menciumi payudaranya. Lalu Anna berpindah ke belakang tubuh Sinta. Kuperhatikan ia mengelus-elus pantat Sinta. Mungkin jari-jarinya ia gunakan untuk merambah ke dalam anal Sinta. “Ahhhh, Tanteeee ….. enak tuchhh … terusin dongggg …..” desah Sinta sambil terus menggeliat-geliat. Payudaranya terus dicium dan diisap oleh Henny, sehingga serangan pada tiga arah membuatnya tak mampu lagi bertahan. Rintihan Sinta semakin kuat ketika ia semakin tinggi mendaki. Lalu kedua tanganku menarik pinggulnya hingga tubuhnya rebah menimpa diriku. Kedua bongkah pantatnya kuremas kuat-kuat ke arahku hingga penisku terbenam dalam-dalam pada vaginanya. “Guuussss, aku dapet sayang!” jeritnya. Guyuran cairan vaginanya pada penisku begitu banyak, sehingga semakin basah rasanya pangkal paha dan perutku. Henny menyedot kuat-kuat puting payudara Sinta, entah Anna, apa yang ia lakukan terhadap anal Sinta aku tak tahu.

Anna menarik tubuh keponakannya turun dari atas tubuhku dan menempatkan diri menggantikan Sinta menunggangi aku. Aku yang belum mencapai orgasme merasa senang menyambut gerakan Anna. Begitu ia naik ke atas perutku dan mulai menaik-turunkan tubuhnya di atas perutku, langsung kutarik rebah tubuhnya menimpa dada dan perutku, lalu kubalikkan dengan posisi terbalik. Kini ia berada di bawah, dengan posisi klasik, missionary style. Kedua pahanya kujepit dengan kedua pahaku, dan kubelitkan kakiku pada betisnya hingga penisku tertancap dalam tanpa dapat ditahan. Kugerakkan pantatku naik-turun hingga penisku masuk keluar vaginanya sambil payudaranya kuisap kuat-kuat. “Ahhhh, Gus, pelan-pelan, bisa putus ntar putingku ….” rintihnya.

Cerita Dewasa 3 - Aku, Sinta, Anna dan Temannya Henny

Sinta terbaring sambil meredakan napasnya menatap Tantenya kukerjai. Henny yang belum apa-apa membantu aksiku memuaskan temannya. Diciuminya bibir Anna sambil meremas-remas sebelah payudara Anna yang tidak kulumat. Henny kemudian beranjak ke bawah dan tubuhnya menimpa punggungku, sebab kurasa kedua payudaranya menekan punggungku sedang pahanya menjepit kedua pahaku yang sudah mengunci paha Anna. Kini aku dijepit oleh dua perempuan. “Gila lu Hen, bisa mati kegencet aku …. Sssshhh ….. aaaahhhh ….” kata Anna di sela-sela desahannya. Tapi kekhawatirannya tak beralasan, sebab Henny tidak benar-benar menjatuhkan tubuhnya membebani aku, ia masih menahan tubuhnya agar tidak memberatkan temannya. Sambil tangan kirinya menahan tubuhnya agar tidak terlalu berat menimpaku, tangan kanannya merabai payudara Anna. Namun tak lama kemudian ia kembali mendekati kepala Anna dan menaruh vaginanya tepat di atas wajah Anna sambil menarik tubuhku agar berciuman dengannya. Aku mencium bibir Henny sambil terus merangsak vagina Anna yang semakin licin oleh cairan pelumas. Payudara Henny kuremas-remas sementara Henny meremas-remas dan memelintir puting payudara Anna sambil terus menggeliat-geliatkan pinggulnya di atas wajah Anna. Desahan Henny bercampur dengan rintihan Anna. Tak lama kemudian kurasakan aliran darahku semakin deras, kupercepat gerakan penisku sambil mengerang, “Annn… aku hampir sampai sayang ….” Anna membelai-belai pinggulku dan mendesakkan pinggulnya semakin ketat ke arahku hingga penisku ditelan habis oleh vaginanya. “Ahhhh, aku juga Gus, tahan ya? Kita sama-sama ….. oooouggghhh … aaakkkhhh …. ssshhhhh …. uuukkkhhhhhh ….” rintihannya semakin kuat berubah menjadi jeritan. Semprotan spermaku di dalam vaginanya terasa begitu kuat, lebih-lebih saat dinding vaginanya meremas-remas penisku. Aku menjatuhkan tubuh menimpa Anna, sedangkan Henny sudah menarik tubuhnya dari atas wajah Anna. Beberapa saat kemudian aku membalikkan tubuh berbaring terlentang di sisi Anna dan Sinta. Henny meraba-raba penisku dan menciuminya, “Ihhh pada curang, aku belum kebagian nich …” katanya. Anna dan Sinta hanya tersenyum menatap ke arahnya.

“Sabar Yang, ntar dulu, aku masih capek nich …” kataku. Henny masih terus menciumi dan menjilati penisku yang basah akibat sperma dan cairan vagina Anna. Penisku tidak setegang tadi lagi, tetapi dengan lihaynya, Henny mengocok-ngocok penisku, sehingga ketegangannya tetap bertahan. Aku merasa agak ngilu, tetapi kasihan juga melihat Henny menderita.

“Ok, sayang. Kamu nungging ya?” pintaku sambil merabai tubuhnya. Henny menuruti permintaanku, lalu menungging di depanku. Kuarahkan penisku ke vaginanya yang basah. Kujilati sebentar membaui aromanya yang spesifik. Kumainkan telunjukku mengait-ngait klitorisnya. “Udah dech, buruan Gus, nggak usah pake foreplay lagi, aku nggak kuat lagi nih…” desahnya.

Aku tertawa dan memenuhi perkataannya dengan menempatkan penisku tepat di vaginanya. Kumajukan tubuhku mendesak pantatnya hingga penisku masuk ke dalam vaginanya dengan telak. “Guuuussss….. ooooohhh … nikmatttttnnyaaaa…” desahnya sambil memaju-mundurkan tubuhnya agar penisku dapat leluasa bergerak maju-mundur ke dalam vaginanya. Kupegang kedua pinggulnya dan melanjutkan gerakanku. Kedua payudara Henny bergantung bak buah pepaya. Melihat itu, Sinta menempatkan diri terlentang di bawah tubuh Henny hingga mulutnya bebas mencium dan mengisap payudara Henny. Lama melakukan itu, Sinta meneruskan aksinya dengan turun terus ke arah perut dan vagina Henny dan memberikan vaginanya untuk diciumi Henny. Henny bak anak kecil mendapat mainan, segera melumat vagina Sinta sambil menikmati penisku pada vaginanya dan jilatan Sinta pada klitorisnya. Terlebih ketika jari telunjukku kumasukkan pelan-pelan ke analnya, membuat Henny semakin mengerang. Mungkin akibat pengaruh menyaksikan persetubuhanku dengan Sinta dan Anna sebelumnya, membuat Henny tak mampu lama-lama bertahan, dengan suatu sentakan kubuat ia menggapai titik kenikmatan dengan rintihan panjang, “Aaaaauuukkhhhh ……” Setelah itu, kami berempat berbaring kelelahan. Aku merasa tenagaku terkuras habis melayani nafsu ketiga perempuan itu. Tak sadar lagi aku tertidur dengan kepala Anna pada pahaku dan ketiakku disusupi wajah Henny sedangkan Sinta memeluk tubuh Henny dari belakang. Aku tertidur lelap hingga bangun pukul 8 dan melihat Anna baru selesai mandi dan sambil berhanduk, mematut diri di depan meja cermin. “Mana Henny dan Sinta?” tanyaku sambil membuka mata.

“Mereka sudah hengkang pukul 4 tadi,” katanya sambil menarik selimutku, “Sana, mandi! Bau tau!” Tubuhku yang telanjang terbuka ketika selimutku disingkapkan oleh Anna. Aku melangkah menuju kamar mandi sambil melabuhkan ciuman kecil pada kuduknya. Aku pun mandi dan berkemas-kemas.

Kami sarapan di restoran hotel. Usai makan, Anna mengambil HP-nya, “Ayu … Ayu ya?” Lalu ia lanjutkan, “Kamu bisa temui kami di hotel sejam lagi biar temani kami belanja?” Setelah mendapatkan jawaban dari seberang, ia katakan, “Baiklah, kami tunggu ya! Trims.”

Kami duduk-duduk di taman hotel sambil menikmati suasana pagi yang cerah. Tak lama kemudian Ayu datang dengan celana panjang coklat tua dan t-shirt berwarna kuning gading. Rambutnya yang sebahu dibiarkan tergerai hingga menampakkan kecantikan alamiahnya. “Ke mana kita Bu?”


“Ah kamu … Dari semalam manggilnya Bu melulu sih, apa aku sudah begitu tua?” kata Anna, “Panggil Mbak keq …” sambung Anna sambil berdiri mengajak kami bertiga untuk berjalan.

“Ya deh, ke mana kita Mbak?” ulang Ayu sambil tersenyum melirik ke arahku.

Aku membalas senyumnya sambil mengikuti langkah mereka. “Kita cari oleh-oleh dan souvenir khas sini ya?” kata Anna seraya memegang tangan Ayu.

Kami berlima kemudian berbelanja. Cukup banyak juga makanan dan minuman khas Bali yang kami bawa. Selain itu, kami juga membeli beberapa ukiran patung buatan sana. Lalu Anna mengajak kami masuk ke suatu toko seluler. Setelah melihat-lihat, ia berkata pada Ayu, “Nah, semalam kan Mbak janjikan mau memberikan hadiah pada Ayu. Mbak liat HP kamu sudah kuno, perlu diganti tuh. Sekarang pilihlah mana yang kamu suka!”

Ayu tersipu-sipu, “Wah, ulang tahun saya masih lama, Mbak. Koq dikasih hadiah sekarang sih?”

“Sudahlah, nggak usah menolak. Ayo, kamu pilih deh!”

Ayu agak segan, tetapi karena didesak oleh Anna, juga dibantu oleh Henny, ia tak berani menolak lagi. Mula-mula ia memilih HP Nokia di bawah harga Rp 1 juta. Namun Anna tidak setuju dan meminta pelayan toko mengambil sebuah HP Nokia high-end seharga Rp 4 juta. Ayu terkejut melihat hal itu. “Ah, kemahalan tuh Mbak, saya cukup yang murah saja.”

“Sudahlah, tak baik menampik permintaan orang, apalagi kamu sudah saya anggap adik sendiri,” kata Anna sambil meminta pelayan toko mencoba HP tersebut. Setelah mendapat penjelasan seperlunya dan memasukkan no. HP lama Ayu ke dalam HP baru tersebut dan membelikan voucher pulsa buat Ayu, kami meninggalkan toko tersebut dan diajak Anna masuk ke toko busana. Di sana mereka membeli beberapa pakaian, termasuk untuk Ayu yang semakin jengah karena dibelikan beberapa macam barang. Dengan bungkusan yang cukup banyak, kami mencari rumah makan yang menyajikan suguhan nikmat atas saran Ayu.

Puas mengisi perut, kami pun kembali ke hotel. Ayu yang memang sedang tidak bertugas, diminta oleh Anna menemani kami hingga malam, sebab besok siang kami sudah kembali ke Jakarta. Ayu tidak keberatan dan mengikuti kami ke kamar Anna dan aku. Setelah meletakkan barang-barang, kami duduk-duduk di ruang tamu kamar itu. Tak berapa lama, Anna masuk ke kamar mandi. Terdengar suara air pada bathtub, agaknya ia kegerahan sehingga mau mandi, pikirku. Agak lama di dalam kamar mandi, kemudian kami dengar suaranya berseru.

“Ayu, tolong ambilin bajuku dong, ketinggalan di atas kasur …” pintanya pada Ayu.

Ayu menatap kami satu persatu, seakan-akan memintakan persetujuan kami. Ia agak risih mungkin, sebab orang baru, tetapi justru ia yang dimintai tolong oleh Anna. Tampak keragu-raguan di matanya. “Udah Ay, kan kamu yang dimintai tolong ama Tante, buruan …” desak Sinta sambil mengunyah-ngunyah kacang Bali yang kami beli.

Ayu menoleh ke arah ranjang dan beranjak mengambil gaun Anna dan menuju pintu kamar mandi. “Ini Mbak,” katanya.

“Masuk aja, pintunya nggak dikunci koq,” kudengar suara Anna.

Ayu masuk untuk memberikan gaun tersebut, tetapi tak lama kemudian terdengar suaranya bernada kaget, “Ahhh … Mbak, jangann ….” Aku penasaran, entah apa lagi yang dilakukan Anna terhadapnya. Henny cuma melempar senyum padaku, sedangkan Sinta pura-pura tak tahu dan menikmati makanan kecil di atas meja. Aku berjingkat-jingkat ke arah kamar mandi, kulihat pintunya agak terbuka. Kuintip ke dalam dan kulihat membelakangi pintu, tubuh Ayu sedang dipeluk oleh tubuh telanjang Anna sambil diciumi bibirnya. “Mmmppfff … aaahhhh …” desah Ayu berusaha menolak tubuh Anna. Namun Anna tidak melepaskan jepitannya pada pinggang Ayu, justru ia tarik tubuh Ayu semakin kuat hingga keduanya seperti dua orang yang sedang bergulat. Dengan suatu paksaan, Ayu berhasil didudukkan oleh Anna di atas closet sambil terus diciumi bibirnya dan t-shirtnya dijelajahi oleh tangan Anna. Mendapat serangan mendadak, Ayu tak bisa bertahan lagi, ia hanya terduduk sambil menerima kuluman bibir Anna pada bibirnya dan remasan jari-jari Anna pada dadanya. Ia mulai mendesah. Kuintip terus mereka. Kulihat bagaimana tangan Anna dengan lincahnya membuka t-shirt yang dikenakan Ayu hingga terlihat sebagian payudaranya yang masih terbungkus BH berwarna putih. Celana panjangnya tak luput dari sasaran tangan Anna yang dengan cepat mengarah pada risleting belakang dan setelah membuka celana tersebut, segera melemparkannya ke dekat wastafel bersama-sama t-shirt Ayu. Ayu masih terus mendesah menikmati jilatan lidah dan kuluman bibir Anna yang gesit pada bibir, dagu, leher dan dadanya. Sambil mencium dan menjilat, Anna membuka kaitan BH Ayu hingga terpampanglah payudaranya yang indah. Tubuh Ayu yang sawo matang kini hanya dibalut oleh celana dalam. Payudaranya menggantung indah, tampak sangat alami, belum kendor. Anna melumat putingnya sehingga membuat Ayu semakin mendesah. “Mbaaaakkk … ssshhh …. aaaakkhhhh … Udah Mbak, aku …. aaaaahhh …. “

“Kenapa sayang? Kamu kesakitan ya?” bisik Anna sambil menghentikan kuluman bibirnya tetapi terus mengelus-elus tubuh Ayu.

Ayu menggelengkan kepala, tetapi matanya terlihat sayu karena mulai dilanda oleh birahi. “Mbak terusin ya, biar kamu puas sayang ….” kata Anna sambil meneruskan elusan dan remasan jari-jarinya di sekujur tubuh Ayu.

“Susu kamu indah sekali, sayang!” kata Anna sambil membelai-belai payudara Ayu dan putingnya. Memang dibandingkan ketiga perempuan itu, payudara Ayu kulihat paling bagus. Bentuknya tidak terlalu besar, tetapi putingnya tidak seperti payudara pada umumnya menonjol dengan besar yang sama dari pangkal hingga ujungnya, tetapi bak kerucut, mulai dari pangkal hingga ujungnya. Payudara Ayu juga terasa kenyal, tidak terlalu kendor seperti Anna yang sudah menikah cukup lama, apalagi dengan Henny yang menurutnya suami gelapnya sangat suka meremas-remas dan mengulum putingnya hingga memerah. Milik Ayu sama sekal dengan payudara Sinta yang belum menikah, tetapi walaupun lebih kecil daripada punya Sinta, tampak masih asli, pertanda tidak banyak jari dan mulut yang sudah mengulumnya. Belakangan baru kutahu, bahwa Ayu masih lugu, ia punya pacar anak seorang pejabat di Denpasar yang kini sedang studi lanjut di Prancis.

Kini jari-jari Anna turun ke perut dan sela-sela paha Ayu sehingga spontan Ayu menutup rapat-rapat kedua belah pahanya. Namun hal itu hanya berlangsung sekejap, sebab ketika kedua putingnya dilumat bergantian sambil diremas-remas payudaranya oleh Anna, kembali Anna meraba pahanya dan membukanya perlahan-lahan. Kini ia tidak menolak dan semakin melebarkan kedua pahanya. Jari-jari Anna bergerak mengelus-elus pangkal paha Ayu yang semakin kuat mendesah. Celana dalam Ayu tak lama kemudian dibuka oleh Anna hingga ia pun telanjang bulat. Keduanya dalam keadaan berdiri berpelukan dan berpagutan mesra. Desahan Ayu kembali terdengar saat Anna menurunkan ciuman bibir dan jilatan lidahnya ke leher, payudara, perut dan berhenti di pangkal paha Ayu. Rambut kemaluan Ayu ia geraikan dan lidahnya terjulur ke dalam vaginanya. Ayu merintih sambil meremas-remas rambut Anna. Kubuka celana dan bajuku dan dengan bertelanjang, aku masuk ke dalam kamar mandi dan mendekati keduanya. Ayu agak terkejut demi melihatku masuk, tetapi ia tak mampu melakukan apa-apa ketika sambil kucium bibirnya, kuangkat tubuhnya dan kupondong keluar dari kamar mandi diikuti oleh Anna dari belakang. Sambil menggendongnya dengan kedua tanganku, kuciumi bibirnya dan kumainkan lidahku dalam rongga mulutnya.

Kubaringkan tubuh Ayu terlentang di kasur dan terus kuciumi bibir dan seluruh wajahnya sementara Anna kembali menciumi vagina Ayu. Sinta dan Henny hanya menatap kami bertiga. Ayu merintih ketika lidah Anna membelai dan bibirnya mengisap klitorisnya. Sambil melakukan hal itu, jari telunjuk Anna masuk ke dalam liang vagina Ayu, “Aaaahhhhh, sakiiitt … Mbakkkk ….” jerit Ayu.

“Tenang sayang, kan semalam sudah enak waktu ditembus Agus?”

Ayu hanya menatapnya sayu sambil mengatur napasnya yang semakin tak menentu akibat deraan nafsu yang semakin tinggi saat putingnya kumainkan dengan jari-jariku.

“Mbak pelan-pelan aja ya sayang?” kata Anna sambil mengorek-ngorek liang vagina Ayu dengan telunjuknya. Bisa dipastikan, vagina Ayu semakin basah akibat tusukan jari Anna. “Nah, sudah enakan sekarang?” tanya Anna sambil menatap wajah Ayu. Ayu menjawab dengan suara berbisik, “Yahh, sssh … yah .. enak Mbak …. aaahh ….”

Anna mempercepat jarinya masuk-keluar vagina Ayu, hingga Ayu semakin kuat merintihan. “Ahh …. ssshhh … mmmppfff…. aaauuhhh …. oooggghhh …” Anna tidak menghentikan ciuman dan permainan lidahnya, bahkan semakin mengganas dengan jari-jari yang semakin intens masuk dan keluar liang vagina Ayu.

“Anna, jangan kencang-kencang dong sayang, kasihan Ayu ….. lihat nich wajahnya menahan sakit ….” kataku berlagak kasihan pada Ayu sambil mengisap puting payudaranya bergantian.

“Kalau gitu, kustop aja, Ayu?” Anna pura-pura bertanya sembari menghentikan jari dan mulutnya serta memandang wajah Ayu.

Ayu dengan mata terpejam menggeleng-gelengkan kepalanya, “Nggak Mbak, jangan distop, nggak … ja …. jangaaannn Mbak, oohh …. terus … terusin … aahh … ssshh …”

Anna tersenyum sambil kembali mengisap klitoris dan labia vagina Ayu serta memasuk-keluarkan jarinya ke liang vagina Ayu. Lidahnya bahkan turun sesekali ke sela-sela antara vagina dan anal Ayu, serta mulai beroperasi di seputar lubang anal Ayu, hingga membuat gadis Bali itu menggeliat kegelian dan mengangkat pinggulnya. Aku mengajari dan meminta Ayu untuk menciumi dadaku. Mula-mula ia agak menolak, tetapi karena payudaranya terus kucium dan kujilati, lama-lama ia terangsang untuk menjilati dadaku. Awalnya, lidahnya terjulur menyentuh puting susuku. Lidahnya yang basah membuatku merasa nikmat, juga ketika kedua bibirnya mulai mencoba memasukkan putingku ke dalam mulutnya. Apalagi waktu lidahnya menjilati putingku sambil bibirnya mengisap putingku yang tak sebesar putingnya.

Tiba-tiba Ayu menjerit, “Auwwww … aaahhh …. dingin …. ” Kutoleh ke arah bawah. Tanpa kuperhatikan, Sinta dan Henny sudah mendekati kami. Rupanya Sinta menaruh buah anggur dingin yang kami beli di supermarket ke sela-sela vagina Ayu hingga ia terkejut. Namun setelah beberapa kali Sinta menggesek-gesekkan buah anggur di celah-celah labia vagina Ayu, ia tidak lagi kaget, malah semakin menikmati sensasi aneh yang ditimbulkan perbuatan Sinta. Setelah membasahi sebuah anggur dengan cairan vagina Ayu, Sinta mengambilnya dan memasukkannya ke dalam mulutnya sendiri tanpa rasa jijik sedikit pun. Henny melakukan hal serupa terhadap Ayu. Kini tiga perempuan itu mengerumuni vagina Ayu. Sinta dan Henny bergantian memasukkan buah anggur ke vagina Ayu lalu memakan anggur tersebut setelah dilumuri cairan vagina Ayu. Mereka melakukan hal itu sambil sesekali berciuman. Anna turut dalam aksi mereka dalam berciuman sambil terus menjilati klitoris dan seputar pangkal paha Ayu. “Aaahh …. uuhhh… eeehhhsshhh ….. ooooohhhh ….” rintihan Ayu terdengar. Aku masih meneruskan kulumanku pada puting dan payudara Ayu. Memang amat mengasyikkan melumat dan menciuminya. Aku tak tahu apakah karena masih jarang dilumat dan diremas, tetapi bentuk payudaranya benar-benar cantik.

Rabaan dan ciumanku semakin turun ke perut Ayu hingga dari bawah tubuhku, iapun terangsang untuk menciumi perutku. Pusarnya kucium dan kujulurkan lidah menggelitik. Pinggang dan pinggulnya kuciumi dan kujilati membuat geliat tubuhnya semakin hebat, terlebih dengan aksi Anna yang semakin mempercepat jari-jarinya masuk keluar vagina Ayu dan bibir serta lidah Henny dan Sinta yang turut menciumi dan menjilati sekujur paha, lutut dan turun ke tumit serta jari-jari kakinya.

Sambil melakukan isapan dan jilatan, kuarahkan penisku ke mulut Ayu. Ia sempat memegangi penisku dan hanya mengocok-ngocoknya di samping pipinya. Tetapi kupaksakan dengan sebelah tangan memegang pangkal penis dan memasukkan kepala penis perlahan-lahan memasuki mulutnya. “Mmmmppppfff …. aaakkhh …” desahnya agak menolak, tetapi setelah penisku masuk dan kuangkat pantatku ke atas seakan-akan ingin mencabut, justru mulutnya melakukan gerakan mengisap, hingga penisku urung keluar dari mulutnya. Aku tersenyum karena bujukanku agar ia mengoral penisku berhasil. Kunaikturunkan pantatku agar penisku dapat masuk keluar mulutnya yang mungil. Terasa bahwa bibir dan lidahnya belum pandai mengoral, tetapi aku tak peduli. “Biarlah ia belajar,” pikirku.

Sensasi luar biasa memenuhi tubuh Ayu, hingga ketika lidah dan bibirku bertemu dengan lidah dan bibir Anna di klitoris dan vaginanya, ia mengerang dan merintih sambil menggeliat-geliatkan pinggulnya dengan gerakan tak beraturan. Kuraba klitorisnya. Indah sekali, saat begini tegang, kira-kira sebesar biji kacang tanah. Kuingat-ingat klitoris Anna yang saat tegang cuma sebesar biji kacang hijau, sedangkan Henny, karena disunat waktu kecil, malah lebih kecil lagi, walaupun setelah diraba dan diciumi, reaksinya tak kalah hebat dengan klitoris milik Anna. Sedangkan klitoris Sinta, lebih besar daripada milik Henny, tetapi tak sebesar milik Anna.

“Tahu nggak kamu …. klitorismu indah sekali, Ayu sayang!” bisikku sambil terus menciumi klitoris Ayu. “Betul nggak An?” tanyaku pada Anna. Anna tidak menjawab, hanya meneruskan tingkahnya menciumi vagina dan sela-sela paha Ayu.

Sekonyong-konyong Ayu melengkungkan tubuhnya sambil menjerit lirih dengan nada panjang, “Ooooooohhhh ….” Kami berempat yang tahu ia bakal orgasme, memperhebat serangan kami dengan lidah, bibir dan jari-jari kami. Vaginanya yang berbau harum kujilati dan kutusukkan lidahku sekuat-kuatnya ke klitorisnya yang sudah amat tegang lalu kuisap kuat-kuat. Dari arah berlawanan, lidah Anna masuk sedalam-dalamnya ke liang vagina Ayu. Penisku yang ada dalam mulut Ayu terasa amat kuat diisap, bahkan giginya dengan gemas melakukan gigitan lembut pada batang penisku. Untungnya aku masih bisa menguasai diri untuk tidak memuntahkan spermaku dalam mulutnya. Cairan vagina Ayu dengan derasnya mengalir dari dalam vaginanya, bahkan terasa ada yang muncrat mengenai wajahku dan wajah Anna. Aku agak kaget. Wah, semalam tidak gini, koq sekarang bisa gini, pikirku. Anna tertawa melihat wajahku yang bak orang dungu dan masih mengangkang di atas wajah Ayu. Kugeser tubuhku ke samping tubuh Ayu sambil mengelus-elus payudara dan putingnya. Ayu mendesah. Di bagian bawah, Henny dan Sinta tidak lagi menciumi jari-jari kaki, lutut dan paha Ayu, tetapi sudah berpelukan dan berpagutan mesra sambil meremas-remas. Baju keduanya sudah acak-acakan. Bahkan Henny sudah hampir telanjang, dengan baju yang sudah tersingkap dan BH serta celana dalam yang sudah mulai terbuka di sana-sini. Sinta sendiri sudah tidak mengenakan baju lagi, kecuali BH yang hanya bertengger di atas payudaranya sebab tali pengaitnya sudah terbuka, tetapi celana dalamnya masih utuh di balik celana panjangnya yang masih ia pakai.

Sambil mengusap-usap wajahku yang terkena semprotan cairan Ayu, ia bilang, “Gus, Gus, ada juga sainganku sekarang nich, yang bisa nyemprot pipis sekalian air mani …..”

Usai berkata demikian, ia gunakan jari-jarinya masuk-keluar dengan cepat ke liang vagina Ayu. “Mbaaakkk,” rintih Ayu sambil mencoba menahan jari Anna dengan tangannya, tapi upayanya tak berhasil, sebab Anna terus memainkan jari-jarinya, “Aaaahhhh ….. sssshh… oooohhhh ….. uuuhhh ….. eeehhhh …. mmmppppffff …. aakhh ….”


Usaha Anna untuk mengerjai vagina Ayu mendatangkan hasil lanjutan, sebab tak lama kemudian Ayu mengangkat pinggangnya sambil vaginanya kembali memuntahkan amunisi yang berikut. Kini wajah Anna yang menutupi vagina Ayu dan mengisap dan menjilati cairan yang keluar dari dalamnya. Geliat pinggul dan pantat Ayu terlihat amat erotis. Aku tak habis pikir, wanita yang tampak begitu lugu dan sopan ini ternyata memiliki potensi seksual yang hebat. Aku terpana melihat Anna begitu buasnya menghantar Ayu menggapai puncak kenikmatan. Ayu terengah-engah, keringatnya bercucuran. Kuambil handuk kecil dan kulap tubuhnya yang telanjang. Ia berusaha menggapai selimut di kakinya untuk menutupi ketelanjangannya karena rasa malu. Namun Anna menahan selimut tersebut dan berkata, “Nggak usah, sayang. Masak tubuhmu yang begini indah tidak boleh kami pandangi?”

Kulihat wajah Ayu yang agak sawo matang memerah akibat malu. Ia rapatkan pahanya erat-erat sambil menggunakan kedua telapak tangannya menutupi kedua payudaranya. Aku hanya tersenyum melihat tubuhnya yang telanjang bak patung Yunani kuno terbuat dari batu pualam.

Bersambung.... KLIK DISINI Cerita Dewasa 4 - Aku, Sinta, Anna dan Temannya Henny

No comments:

Post a Comment

Popular seribu