Monday, August 19, 2013

Cerita Dewasa 4 - Aku, Sinta, Anna dan Temannya Henny

Cerita Dewasa 4 - Aku, Sinta, Anna dan Temannya Henny | Anna yang melihat barangku masih tegang, dengan cepat meletakkan tubuh di depanku dengan posisi menungging. Kuarahkan penisku dan kumasuki vaginanya yang memang sudah basah kuyup. Sambil bertelekan pada kedua tangannya, mulut Anna mencari-cari payudara Ayu yang masih ia tutupi dengan kedua telapak tangannya. Anna kembali menciumi dan mengisap payudara Ayu dan putingnya yang unik. Ayu mencoba menolak, “Mbaakk, jangan …. aku udah capek … aaahh….” Namun usahanya gagal karena kedua tangannya dipentang ke kanan kini oleh Henny dan Sinta sambil keduanya kini ganti menciumi bibir Ayu. Tubuh Ayu kembali menggeliat-geliat akibat perlakuan ketiga perempuan itu pada bibir dan payudaranya. Rintihan Ayu berpadu dengan desahan Anna yang kusetubuhi dengan doggy style. Kupegang kedua belah pantat Anna sambil menghentakkan pantatku kuat-kuat menghunjamkan penisku ke dalam vaginanya. Melihat geliat pinggul Anna yang semakin meliuk-liuk, kurapatkan dadaku pada punggungnya sambil meraih kedua payudaranya yang menggantung. Kuremas-remas payudara dan putingnya sambil penisku terus masuk keluar vaginanya. “Gus, Gus ….. aahhh … Gussss ….” rintih Anna.

“Kenapa sayang? Masih kurang kencang?” tanyaku berbisik di telinganya.

Cerita Dewasa 4 - Aku, Sinta, Anna dan Temannya Henny

“Yah … yahh … ssshh ….. aaahhhkkk ….. oooggghhh …. lebih kuat sayang, lebih kencangggg …. oooohhh …. auuuuhhh …. awwwww…..” rintihannya berkembang menjadi pekikan ketika kutancapkan penisku sedalam-dalamnya hingga ujungnya terasa menembus hingga rahimnya. “Aaaaawwwww …… aaaahhhh …..” jerit Anna, dan kurasakan cairan vaginanya membasahi penisku.

“Akkkuuu juga Mbaaakkk …. Aaahhhhh ….” Erangku sambil berusaha semakin merapatkan tubuhku ke tubuhnya. Melihatku hampir orgasme, Henny dan Sinta buru-buru melepaskan pegangan mereka atas kedua tangan Ayu dan menolakkan tubuhku serta berebutan mendekatkan wajah mereka ke penisku. Tangan Sinta berhasil lebih dulu menjangkau penisku. Ia masuk-keluarkan penisku ke dalam mulutnya sedangkan Sinta menciumi paha dan testisku. Beberapa saat kemudian spermaku keluar dengan sangat lincah menyemprot wajah mereka. Keduanya menjilati spermaku sambil bergantian mengisap dan menjilati sekujur penisku. Ayu yang terbaring di bawah Anna agak melotot menatap tindakan Sinta dan Henny. Tangannya berhasil meraih selimut dan menutupkannya ke payudaranya, tetapi pangkal pahanya luput sehingga masih memperlihatkan belahan vaginanya yang indah. Ia berusaha untuk bangkit dari posisinya, tetapi tangan Anna mencegahnya dan membaringkannya kembali. Ayu tak bisa menolak, apalagi Anna menjepit tubuhnya dengan menggunakan kedua pahanya mengunci pinggul Ayu. Jari-jari Anna bermain di kening dan wajah Ayu, “Kamu manis sekali, sayang. Terima kasih sudah menemani kami ya?” Ayu hanya terdiam, seulas senyum tersungging, tetapi lebih mirip seringai.

“Kamu menyesal karena tidak gadis lagi, sayang?” tanya Anna mendesak sambil mengelus-elus rambut Ayu.

“Nggak Mbak. Aku cuma belum siap menerima. Semuanya begitu cepat dan aku …. aku … begitu bodoh ….” bisiknya sambil menggigit bibir dan air matanya menetes perlahan-lahan dari kelopak matanya yang terpejam.

“Jangan menyesali semua ini. Cepat atau lambat semua orang akan mengalaminya. Kamu takut kalau calon suamimu takkan menerima keadaanmu nanti?”

Ayu tidak menjawab, ia hanya terisak-isak. “Tenang, tenanglah. Cowok sekarang pun banyak yang nakal. Apa sebanding, kalau kamu masih perawan dapet suami yang ternyata sudah tidak perjaka lagi?” kata Anna lagi sambil mengusap-usap wajah Ayu dan mengeringkan air matanya. Lalu sambungnya lagi, “Kamu sudah punya cowok? Atau malah calon suami?”

Ayu berbisik sambil menutupi sekujur tubuhnya dengan selimut, “Calonku sedang studi lanjut ke luar negeri, Mbak. Mmmm …… aku takut, sebab ia anak pejabat di Denpasar. Aku sebenarnya tidak begitu suka padanya. Aku dijodohkan oleh kakek dan dorongan orang tua. Sebetulnya tidak suka, sebab orangnya agak mata keranjang. Tapi gimana lagi ….. kata orang tua, kasta kami sama derajat dan sudah dijodohkan sebelum kami lahir,” tuturnya dengan tatapan mengambang.

“Nah, apa kubilang, kan? Udah deh, aku juga dulu menikah tidak perawan lagi, tapi suamiku maklum. Yang penting gimana nantinya setelah nikah,” sambutnya berceramah. “Lalu, kapan kamu menikah dengannya?”

“Kata orang tuaku tahun depan ia kembali dari luar negeri dan karena akan menduduki jabatan penting di perusahaan ayahnya, ia harus menikahi diriku sebelumnya.”

“Jadi, buat apa dong kamu kerja di hotel?” kini Henny ikut nimbrung ingin tahu.

“Yah itung-itung cari pengalaman, Mbak. Kalau sudah kawin, mana bisa lagi kenal sama orang banyak, kan? Lagi pula, rasanya rugi, sudah pernah kuliah di akademi pariwisata. Ini pun karena aku ngotot aja, tadinya orang tua mau pingit aku sampai calon suamiku kembali dan mengawiniku,” jawabnya. “Aku pernah dengar dari seorang teman yang pernah kursus keluar negeri yang kebetulan satu kota dengan calonku, lalu kuminta ia menyelidiki. Menurutnya, calonku itu suka main perempuan di sana. Aku sedih juga kalau harus menikah dengan orang seperti itu,” lanjut Ayu.

“Sudahlah sayang. Kamu jangan murung. Sekarang kamu punya kakak yang bisa jadi tempatmu mengadu. Kalau kamu mau jalan-jalan ke Jakarta, telepon atau sms aja, nanti kukirim uang ongkosmu ya?” Anna menghiburnya sambil mengelus-elus anak rambut di kening Ayu.

Kulihat wajah Ayu tidak semuram tadi lagi setelah mendengar perkataan Anna. Aku mendengar dialog mereka sambil mengambil tempat duduk di sebelah Anna di atas ranjang. Sinta masuk kamar mandi dan terdengar suara air; lama ia tidak keluar, mungkin berendam di bathtub. Henny duduk di sebelah Ayu sambil ikut mengusap-usap rambutnya.

“Aku permisi dulu, ya Mbak,” kata Ayu sambil berusaha bangun dari tidurnya.

“Lho, mau cepat-cepat ke mana? Kan Ayu off hari ini? Bukankah kemarin sudah janji menemani kami hari ini? Iya, nggak, Ann?” kata Henny sambil meminta tanggapan Anna.


“Ya. Aku jadi sedih lho. Kalau kamu pulang sekarang, berarti kamu marah padaku. Lalu apa artinya kamu sudah kuanggap kayak adikku sendiri?” gumam Anna dengan mimik sedih. “Tapi, terserah Ayu dech, yang jelas, aku akan merasa kehilangan, kalau kamu pamit sekarang…” Anna menambahkan, wajahnya tampak memelas, air matanya turun menetes dari kedua matanya.

“Mbak, Mbak, jangan gitu dong …” sekarang ganti Ayu yang merasa tidak enak. Ia bangun dan memeluk tubuh Anna dengan tubuhnya yang setengah terbuka akibat selimut yang tersingkap waktu ia berusaha memeluk badan Anna. “Aku minta maaf. Oke, aku akan di sini menemani Mbak, tapi ntar malam aku harus pulang, sebab tidak pamit nginap tadi pada kakakku,” tukasnya sambil menyunggingkan senyum.

“Nah, gitu baru adikku. Aku senang sebab sebagai anak bungsu, aku tidak pernah merasakan bagaimana punya adik. Sekarang ada kamu. Kapan-kapan kamu datang ke Jakarta kalau liburan, ya Ay?” wajah Anna berseri-seri dan membalas pelukan Ayu. Aku memakai celana dalam dan duduk di kursi dekat TV.

Kudengar suara pintu kamar mandi terbuka, Sinta keluar dengan hanya mengenakan handuk meliliti tubuhnya sebatas payudara hingga pahanya. Ia kelihatan begitu muda, seksi dan mempesona.

“Ada apa Gus, liat-liat?” tanyanya sambil tersenyum padaku.

“Wah, serasa melihat bidadari turun dari kahyangan,” kataku memuji.

“Dasar buaya darat …..” katanya mendekatiku sambil memencet hidungku. Henny dan Anna tersenyum mendengar kata-kata Sinta. Aku berlagak tidak menghiraukan Sinta, tetapi ketika ia beranjak akan mengambil bajunya di kamar mandi, seolah-olah tak sengaja, tanganku menarik ujung handuknya, hingga terlepas dan terbukalah tubuhnya.

“Gila Gus, kamu memang nakal ya?” rutuknya dengan wajah cemberut sambil mendekati aku. “Orang kayak gini harus dikasih pelajaran,” katanya lagi sambil mencubit putingku. Diserang tanpa persiapan, membuatku gelagapan, walaupun berusaha menghindar, salah satu putingku berhasil ia cubit.

“Aduuuhh, sakit nih Sin! Kamu jahat deh!” aku pura-pura marah.

“Ya, ya, aku minta maaf sayang, kuobati deh,” tukasnya berlagak menyesal, lalu ia dekatkan bibirnya ke putingku yang terkena cubitannya, ia ulas dengan lidahnya. Aku menggeliat, apalagi saat bibirnya mengulum putingku dan diisap-isapnya dengan berirama dan sesekali digigitnya lembut. Aku mengerang, “Mmmmhhhh …. Aaahhh….”

“Kenapa sayang? Sakit ya?” tanyanya sambil membelai-belai dada dan perutku.

“Nggak, terusin dong ….” gumamku merasakan nikmat mulai menjalari tubuhku.

Sinta kembali menjilati dadaku, turun ke perutku dan jari-jarinya mengelus-elus penisku dari arah bawah celana dalamku. Lidahnya lama bermain di pusarku sambil jari-jarinya kini berusaha membuka celana dalamku dan mencuatlah penisku yang sudah kembali tegang. Lidahnya menjulur, ujungnya menyentuh lubang pipisku hingga penisku berdenyut menahan nikmat. Bibirnya tak ketinggalan membasahi batang penisku, lalu tangan kanannya memegang pangkal penisku dan memasukkan penisku ke dalam mulutnya. Aku mengerang sambil menikmati ciuman, jilatan dan kulumannya pada penisku. Mataku memejam, namun sempat kulihat bagaimana Ayu menatap kami dengan tatapan yang sulit dilukiskan. Tentu sejak semalam ia sudah tanda tanya, koq Anna bolehkan “suaminya” bersetubuh di depan matanya sendiri, bahkan Anna yang seakan-akan memprovokasi persetubuhan itu, dan malah membiarkan keponakannya ikut main. Walaupun berbaring di antara tubuh Henny dan Anna sambil jari-jari keduanya meraba-raba tubuh Ayu, tetapi tatapan mata Ayu terus tertuju padaku dan Sinta.

“Kamu pasti penasaran melihat kami, Ayu sayang?” kudengar ucapan Anna. “Agus itu adalah teman baikku. Suamiku justru memintanya untuk menemaniku selama ia keluar negeri. Kami benar-benar saling sayang, walaupun takkan mungkin saling memiliki. Yah, untungnya kami hanya sebatas berbagi cinta, sebab bagaimanapun statusku dan suami sudah terikat dalam perkawinan. Masyarakat belum bisa menerima kenyataan semacam ini, bukan?”

“Lalu, Mbak Henny ini apanya Mbak Anna?” tanya Ayu sambil menatap wajah Anna.

“Ini teman baikku yang nasibnya tidak beruntung. Ia hanya jadi istri simpanan. Untungnya Agus ini mau berbagi kenikmatan, hingga ia tidak jajan di luaran sana. Kalo nggak, hiiiyyy, bisa-bisa ia kena Aids karena main ama gigolo,” Anna berkisah. “Sedang Sinta itu, adalah keponakanku yang ntar lagi jadi sarjana.” Ia berhenti sesaat sambil membelai-belai rambut Ayu yang tergerai di bahunya dan dadanya. Diusap-usapnya lembut rambut Ayu yang ada di atas payudaranya sambil merabai putingnya. “Ssshhhh …. aaaahhh …” Ayu kembali mendesah sambil menyimak penuturan Anna.


“Kami sebenarnya adalah manusia-manusia kesepian dan haus cinta. Aku sudah kawin bertahun-tahun, belum punya anak. Henny juga belum dapat anak. Sinta masih kuliah dan sempat patah hati karena pacarnya main gila dengan perempuan lain. Agus belum nikah karena belum dapat pasangan yang cocok. Makanya kami minta ia menemani kami supaya kami tidak kesepian.”

Jilatan bibir, lidah dan sedotan mulut dan bibir Sinta semakin kerap dan berirama memasuk-keluarkan penisku ke dalam rongga mulutnya. Bahkan kadang-kadang ia masukkan sampai pangkalnya hingga terasa kepala penisku menyentuh ujung tenggorokannya. Beberapa kali ia tersedak. Air ludahnya cukup banyak meleleh di sela-sela bibirnya.

“Kamu tidak suka berteman dengan kami setelah semua yang kuceritakan?” tanya Anna sambil menatap dalam-dalam mata Ayu.

Ayu menunduk, tetapi tangan Anna mengangkat dagunya hingga ia tak kuasa melawan dan melihat ke wajah Anna. “Jawablah Ayu! Kalau memang kamu tidak suka, tidak apa-apa. Aku tidak keberatan, kalau kamu melupakan kami dan kami tidak perlu mengganggu kamu lagi kalau datang kemari. Kamu tidak usah terikat janji untuk datang ke rumahku di Jakarta,” tegas Anna.

“Nggak Mbak. Jangan marah dong! Aku cuma sedih …” jawabnya.

“Kenapa kamu sedih? Karena kegadisanmu hilang oleh perbuatan kami semalam?” desak Anna lagi.

“Aku tak tahu, Mbak. Aku bingung mau berbuat apa …..”

Sementara itu, penisku semakin kuat diisap oleh Sinta. Bunyi yang khas terdengar di kamar itu, “Sleeeppp …. ssssleeep …. sssleeepppp ….” Sinta kulihat semakin ganas mengulum penisku dan dengan suatu gerakan tak terduga ia berdiri dan meletakkan tubuhnya di atas pangkuanku sambil memegangi penisku tepat di bawah vaginanya. Maka melesaklah penisku masuk ke dalam liang vaginanya. Kemudian ia mengatur gerakan tubuhnya naik turun di atas pangkuanku sambil kedua tangannya memeluk leherku dan bibirnya mencari-cari bibirku untuk ia ciumi dan jilati. Kubalas ciumannya seraya meremas-remas payudaranya yang semakin rapat ke dadaku. “Sssshhh ….. Gus, addduhhhh …. nikmatnyaaaaa …. oooohhhhh ……” rintih Sinta mempercepat laju tubuhnya dan sesekali menggeliatkan pantat dan pinggulnya agar vaginanya dapat memeras penisku.

Bersambung .... KLIK DISINI Cerita Dewasa 5 - Aku, Sinta, Anna dan Temannya Henny

No comments:

Post a Comment

Popular seribu