Monday, August 19, 2013

Cerita Dewasa 5 - Aku, Sinta, Anna dan Temannya Henny

Cerita Dewasa 5 - Aku, Sinta, Anna dan Temannya Henny | Kudengar Anna kembali berkata, “Sudahlah sayang, yang penting kita jalani hidup ini seperti air mengalir mengikuti ke mana alam membawanya” Anna berfilsafat sambil mendekatkan bibirnya mengulum bibir Ayu. Ayu sempat ingin menolak, tetapi kedua tangan Anna telah memegangi kedua pipinya sedemikian rupa, sehingga bibirnya tak dapat berkelit dan mandah saja saat bibir Anna menyentuhnya. Semula bibirnya mengatup, tidak membalas kuluman bibir Anna, tetapi saat bibir Anna mengisap bibir atas dan bibir bawahnya bergantian, ia terdorong untuk membalas, apalagi sewaktu lidah Anna menjejahi tiap inch permukaan bibir dan kembali memasuki rongga mulutnya. Henny mendekatkan pipinya ke pipi Ayu dan bibirnya juga melakukan kecupan di sana sini. Menyadari kehadiran Henny, Anna sekali-sekali memberi kesempatan pada Henny untuk turut mencium bibir Ayu. Kelopak mata Ayu terpejam saat wajahnya dijelajahi bibir dan lidah dua orang perempuan itu. Bibirnya yang lebih banyak tertutup dan pasif, kini lebih banyak membuka seperti orang kehausan, menantikan tindakan apa yang selanjutnya akan dilakukan mereka terhadap bibirnya.

“Ahhh ….. aaaauuuuhhhh …. oooohhhkkkk …. Guusssss …. sedappppp …. aaaahhhh, nikmat ……. iiiihhhh ….. hhhhmmmm …. oouuuggghhh ….. penismu kuat betul sayang!” puji Sinta sambil menekan penisku dalam-dalam memasuki vaginanya.

“Indah sekali bibirmu, sayang?” celetuk Henny sambil terus mengisap bibir Ayu.

“Mmmmppppffff …. Mbak … aaakkkhhh …. ssshhh …. oookkkhhhh …..” desah Ayu.

Cerita Dewasa 5 - Aku, Sinta, Anna dan Temannya Henny

Lidah Anna dan lidah Henny berpautan di atas bibir Ayu dan serempak kedua lidah itu masuk ke mulut Ayu melakukan gelitikan. Tubuh Ayu agak bergetar kulihat ketika lidah ketiganya bertemu saling menjilat. Lidah Henny masih terus bergerak-gerak liar di mulut saat lidah dan bibir Anna semakin turun menjilati leher dan dada serta perut Ayu. Lagi-lagi Ayu mendesah, terutama dengan semakin liarnya jilatan Anna pada perut, pinggul dan sela-sela pahanya. Ia merintih, “Aaaauuhhh ….. ooooohhhh …. uuhhhh …. ssshhh … eesssttt …….”

Setelah sekitar sepuluh menit Sinta menunggangi tubuhku, kurasakan liang vaginanya semakin kuat menyedot penisku. Aku tak ingin cepat-cepat ejakulasi, sebab ingin memberikan cairan kenikmatanku dinikmati Ayu. Segera kucabut penisku. Kuangkat kedua belah paha Sinta dan kutaruh tubuhnya di atas kursi tanpa sandaran dengan kaki dan kepala menjuntai. Agar ia segera mendaki puncak kenikmatan, kumasukkan jari tengah tangan kananku ke dalam vaginanya dan melakukan tekanan masuk dan keluar dengan cepat sambil jari-jari tangan kiri merangsang klitorisnya. Meskipun Sinta agak protes karena vaginanya tidak mendapatkan cairan spermaku, tetapi dengan permainan jari-jariku perjalanannya menuju gerbang kenikmatan telah semakin dekat. Ia mengerang, merintih dan akhirnya menjerit, “Aaaaahhhhhhh ………… Ggguuuusssssssss ……” tubuhnya bergetar kala merasakan orgasme, kedua pahanya merapat satu sama lain hingga jari-jariku terjepit dengan ketatnya dalam rongga vaginanya. Wajahku dengan cepat turun mendekati pahanya dan lidahku menjilati cairan vaginanya yang segar. Kuisap klitorisnya sambil bibirku mengisap-isap rambut kemaluannya mengeringkan setiap tetes cairan kenikmatannya.

Kutengok ke arah ranjang, Henny kini tidak lagi menguasai bagian atas tubuh Ayu, tetapi berganti posisi dengan Anna yang kini menciumi payudara Ayu, sedang Henny kini menjilati klitoris dan vagina Ayu sambil meremas-remas pinggul Ayu. Ayu merintih dan menggelinjang-gelinjang. Ketiganya kudekati, aku naik ke atas ranjang. Melihatku mendatangi mereka, Henny memberikan ruang di dekatnya agar aku turut membantunya mengerjai bagian bawah tubuh Ayu.

Aku berlutut menghadap sela-sela paha Ayu. Kupegang penisku pada pangkalnya dan kutekan-tekan kepala penis pada celah-celah vaginanya dan sesekali membentur klitorisnya yang kembali tegang. Setelah itu, batang penisku kuletakkan membentang tepat di antara kedua labia vaginanya dan kupukul-pukulkan dengan lembut. Merasakan hal itu, Ayu semakin naik birahi. Tangannya tanpa ia sadari berusaha mencapai klitorisnya dan mengusap-usapnya lembut. “Aaaahhhhh …… aaauuuuhhhhh ….. ssshhh, mmmmpppfff …… ssssshhhh ….. aaaahhh ….. oooouugggghhhh …. Massss….. terusin, aahhhh ….. ooogghhhh…..” rintihnya.

“Apakah aku menyakitimu, sayang?” bisikku sambil menatap wajah Ayu dan penisku hanya kuletakkan di celah-celah vaginanya tanpa kugerakkan sama sekali.

“Oooohhh …. tidak …. ssshshhh …. aaahhh … uuuuhhhh ….. aaahhhhkkk … makks … maksudku …. terussss …. lagiiii …….. oooouggghhhh ….” rintihnya. Aku paham, ia tak lama lagi bakal klimaks. Maka kembali penisku kugerakkan. Kini tidak sekadar mengelus permukaan vaginanya, tetapi mulai menggesek-gesek liangnya, membuat matanya yang terpejam justru membeliak-beliak menahan nikmat. “Ahhhhhh …. yaaahhh …. ooohhh!”

“Gus, kamu sadis, kasihan tuch, udah minta … malah kamu permainkan dia?” tukas Henny sambil mencubit pinggulku. Aku tersenyum dan membalas meremas payudara Henny. Penisku yang kini tepat ada di depan lubang vagina Ayu kumasukkan pelan-pelan tetapi Ayu justru malah mengangkat pinggulnya menyambut penisku agar masuk lebih dalam. Penisku masuk hingga sebatas kepalanya, lalu kucabut, kumasukkan lagi lebih dalam hingga leher penis, kucabut lagi, begitu seterusnya. Setiap hunjaman semakin dalam daripada yang sebelumnya, tetapi gerakannya masih lamban. Geliat pinggul Ayu semakin tak beraturan apalagi di atas, Anna terus mencecar payudara dan putingnya. Kuamati payudaranya sudah memerah di sana sini, terkena gemasnya ciuman bibir dan lidah Anna. Putingnya kulihat semakin memanjang dan tegang di bawah kuluman bibir Anna. Sinta menonton kami bertiga sambil duduk mengangkang di kursi memperlihatkan belahan vaginanya yang merangsang.

Kuingat salah satu trik dalam Kitab Kamasutra, kumasukkan penisku sekali, dua kali, tiga kali, empat kali, lima kali dengan gerakan lamban dan hanya terbenam setengah batangnya ke vagina Ayu, lalu pada hentakan keenam dan ketujuh kubenamkan dengan gerakan cepat dan dalam hingga pangkal penisku tepat menjepit labia Ayu pada pangkal pahanya. Ayu semakin merintih dan mengerang, “Aaaahhh ….. sssshhh …. aoooohhh …. uuuhhhh …. sssshhhh …. Ooooggghhhh ….. mmmpppfff …… aaauuuuhhh …..” Pada jurus ketiga trik tadi, kurasakan penisku semakin hangat oleh siraman air mani Ayu yang mengguyur semakin deras. Penisku semakin kuat dijepit oleh dinding vagina Ayu. Denyut-denyut otot-otot vaginanya begitu kencang. Lidah Henny bermain di seputar perut dan pahanya mencium dan menjilati hingga Ayu benar-benar terangsang hebat. Kedua tangan Ayu meremas kedua belah pantatku dan merapatkannya lebih dekat pada tubuhnya. Kurasa tak lama lagi aku akan orgasme seiring dengan orgasmenya. Kuhentakkan penisku dengan gerakan semakin cepat, kuingat bagaimana bintang film dalam Kamasutra melakukan hunjaman maut hingga pasangannya menjerit-jerit kenikmatan. Kupraktekkan gaya tersebut dengan menarik kedua kaki Ayu dan menaruhnya pada pundakku hingga penisku benar-benar mendapat ruang sebebas-bebasnya menusuk vaginanya. Ayu menjerit dengan suara melengking sambil melepaskan cairan kenikmatannya. Penisku kurasakan diguyur hebat di dalam vaginanya. Saking penuhnya penisku ditelan vaginanya, tekanan air seninya bersamaan dengan cairan vaginanya meleleh keluar dan membasahi sprey ranjang itu. Kuangkat kedua kakinya dan kukangkangkan ke kanan kiri dengan ditekan pahaku, sehingga penisku kini benar-benar terbenam dalam-dalam ke vaginanya. Kembali Ayu memekik akibat hunjamanku yang tidak ia duga-duga, lagi-lagi keluar cairannya, namun kini bersamaan dengan spermaku. Tubuhku bergetar saat memompakan spermaku ke dalam vaginanya. Henny dengan gesit menjilati vagina Ayu dan sesekali lidahnya terjulur ke penisku. Sedang Sinta meremas payudara Ayu serta mengisap putingnya. Anna memagut bibir Ayu dengan liar tanpa memberinya kesempatan bernapas. Kupeluk pinggang Ayu sambil melakukan getaran-getaran kecil dan lembut dengan penisku di dalam vaginanya. Ayu merintih panjang, “Oooooooohhhhhhh ……………” Aku mempertahankan posisi tersebut beberapa saat lalu merebahkan diri di samping Ayu sambil mencium bibirnya.

Henny masih terlihat bagaikan orang kehausan, ditariknya tangan Sinta ke arah dadanya. Sinta meremas payudara Henny sambil mencium bibirnya. Anna yang melihat mereka merasa kasihan pada Henny. Ia bangun dari ranjang dan entah dari mana, ia ambil sebuah dildo bertali yang ia ikat di pinggangnya, lalu ia tempatkan dirinya di sela-sela paha Henny yang dipaksa oleh Sinta menelungkup. Dildo itu ia gesek-gesekkan sebentar di celah-celah vagina Henny dan tak lama kemudian ia masukkan lebih dalam dan semakin dalam, membuat Henny merintih-rintih sambil meremas-remas sprey yang sudah acak-acakan.

Aku dan Ayu menyingkir agak ke tepi ranjang agar memberikan ruang gerak yang cukup bagi ketiganya. Kupeluk Ayu yang rebah tiduran pada dadaku sambil menikmati pemandangan menarik tiga perempuan itu.
Setelah menancapkan dildonya, Anna menggulirkan tubuh berbaring terlentang tanpa melepaskan dildo dari vagina Henny. Sinta membantu menempatkan tubuh Henny yang masih ditancap dildo Anna menelentang di atas tubuh Anna. Setelah itu, Henny disergap oleh Sinta. Dirabai payudaranya dan diciumi sambil jari-jarinya bermain merangsang vagina dan klitoris Henny. Henny mengerang dan mendesah, terutama waktu Sinta turun lagi ke vaginanya dan membasahi anal Henny dan menarik tubuh Henny agar mencabut dildo Anna dan memegangi dildo tersebut tepat di liang anal Henny. Henny semakin merintih saat analnya dimasuki dildo Anna. Ia menaik-turunkan tubuhnya pelan-pelan di atas perut Anna. Tiba-tiba entah dari balik bantal, Sinta mengambil dildo yang lain, lalu ia ulas-ulas di labia Henny dan ia masukkan ke liang vagina Henny. Henny merintih dan merintih. Kedua belah pahanya dibuka lebar-lebar olehnya. Sinta mempercepat laju dildo di tangannya masuk keluar vagina Henny. Tak berapa lama, Henny menjerit dan mencapai orgasme. “Aaaauuwwww ….. nikmat amat sihhhhh …. ooohhhhhh …… sssshhh ……” Kini lega hatiku telah memberikan kepuasan pada ketiga perempuan itu.

Tak terasa gelap mulai membayang. Kami bertiga terbaring kelelahan, apalagi aku yang habis-habisan menyemprotkan sperma. Aku tak sempat lagi mandi, sebab Anna dan Sinta kembali memintaku melayani mereka. Tante dan keponakan itu benar-benar buas mengerjaiku, bahkan Anna begitu getol memintaku menyodominya dengan doggy style dan memberikan punggungnya bagi keponakannya menelentang dan memberikan vaginanya kujilati.

Henny sudah kelelahan, walaupun tak menolak waktu kusetubuhi lagi dengan menaruh setengah tubuhnya di atas ranjang sedangkan kakinya berjuntai ke lantai hingga penisku melesak sedalam-dalamnya ke vaginanya. Usai melayani mereka, aku mendekati Ayu. Kupangku tubuhnya dan kupeluk serta kucium bibirnya, kataku “Kamu benar-benar luar biasa, sayang!”

“Ah, bohong! Kamu yang hebat, bisa bikin empat wanita menjerit-jerit!” elaknya. Aku tersenyum dan mencium bibirnya lagi. “Kapan-kapan, kalau aku kemari, kamu harus temani aku ya?” pintaku.

“Nggak janji ya? Liat nanti deh!” jawabnya.

Malam itu, kami tak keluar untuk makan, kami menelepon pelayan agar mengirim pesanan makanan kami ke kamar. Agar pelayan yang notabene adalah teman Ayu tidak curiga melihat Ayu ada di kamar bersama-sama kami, ia kami sembunyikan di kamar mandi sewaktu kiriman makanan datang. Kami berlima makan dengan hanya mengenakan pakaian minim. Usai makan, kami tidak lagi bersetubuh, tapi hanya saling berciuman dan berpelukan. Ayu pamit pada kami tepat pukul 22, sebab ia tak berani menginap. Sedangkan Sinta dan Henny kembali ke kamar mereka. Anna dan aku tinggal di kamar dan tidur hingga matahari naik cukup tinggi. Karena flight kami sore, kami tak perlu khawatir ketinggalan pesawat. Kami berkemas-kemas setelah sarapan dan diantar mobil hotel menuju bandara. Tak kulihat Ayu masuk kerja hari itu. Tetapi saat menunggu boarding, HP-ku berdering, kulihat ada smsnya masuk, “Mas Agus, aku tidak ngantar ya. Sedih rasanya berpisah, apalagi dengan kamu, orang yang memberiku kenangan indah, sebab kamulah suamiku sebenarnya. Selamat jalan kasih. Kenanglah aku, sayang!” Wah, romantis juga kalimatnya. Kubalas dengan tak kalah mesra, “Dindaku, maafkan aku yang telah menodai dirimu. Cintamu akan selalu kukenang. Berikan daku kesempatan untuk mengenangmu lagi suatu waktu nanti. Cium mesraku untukmu seorang!”

Pernah aku berdinas ke Kupang, tetapi pulangnya kusempatkan singgah dan menginap di Bali sambil menelepon ke Jakarta dengan alasan kehabisan tiket pesawat, hingga terpaksa tak masuk esok harinya. Maklum hari kejepit, jumat, tanggung pikirku. Kuhabiskan bermalam di suatu hotel sejak jumat hingga minggu; tak berani menginap di hotel tempat Ayu bekerja agar tidak kepergok teman-temannya. Tapi kutelepon Ayu agar menemaniku tidur malam jumat, sedangkan esoknya ia masuk kerja. Dan untungnya, ia tidak bertugas hari sabtunya, sehingga kami berdua memadu cinta sepanjang hari tanpa terganggu oleh apapun. Minggu siangnya barulah aku kembali ke Jakarta.

Setelah itu, Ayu pernah ke Jakarta menemuiku, tetapi pada orang tua dan kakaknya ia katakan berlibur di rumah Mbak Anna, agar mereka tidak menaruh curiga. Dua malam ia menginap denganku di suatu hotel di Puncak. Setelah itu barulah kuajak ia bermalam di rumah Anna. Anna sangat cemburu sewaktu tahu bahwa Ayu sudah datang dua hari sebelumnya dan menghabiskan dua malam di Puncak denganku. Namun ia maklum, sebab ia sadar bahwa diam-diam Ayu sangat mencintai aku, tetapi tak mungkin bersatu denganku karena sudah dijodohkan dengan anak pejabat di Bali. Ayu mula-mula risih waktu Anna memohon dirinya bersedia melayani Dicky, tetapi karena desakanku, akhirnya ia mau, meskipun kemudian ia mengakui bahwa amat sungkan main dengan Dicky, sebab ia amat menyukai diriku. Untungnya Dicky tidak marah dan maklum. Malah mereka mendesak kami agar kawin lari, tetapi Ayu takut akan karma, sehingga memilih untuk menikah dengan pria yang tak dicintainya demi orangtuanya. Itulah kebersamaanku yang terakhir dengan Anna dan Dicky, sebab tak lama sesudahnya Anna hamil oleh benih dariku. Aku pun makin jarang bertemu mereka, apalagi setelah Anna melahirkan. Ada perasaan rindu melihat bagaimanakah rupa anakku yang dilahirkan Anna, tetapi waktu mengingat segala dosa-dosaku, rasanya tak mampu melihat dunia ini.

Henny kudengar ditinggal mati oleh suami gelapnya yang telah membelikan rumah dan harta baginya. Suami gelapnya terlibat korupsi dan ketika akan diadili, meninggal kena serangan jantung sebelum kasusnya sempat diperiksa. Walhasil, Henny tidak tersentuh. Pernah ia meneleponku agar bertemu. Ia memohon agar aku menikahinya, tetapi kukatakan kalau di hatiku tak ada cintaku padanya, sebab saat itu aku sering membayangkan Ayu. Henny akhirnya tak mendesakku lagi, walaupun agak terpukul, ia mau menerima kenyataan. Namun ia memintaku memberikan kenangan terindah baginya tepat tiga minggu sebelum pernikahannya. Kami mengadakan rendezvous di suatu hotel mewah atas biayanya. Kami menginap dan bercinta selama dua hari dua malam di hotel itu. Aku sayang pada Henny, tetapi tak mampu membalas cintanya. Daripada kelak hidupnya merana, hampa tanpa cintaku dan hanya memiliki tubuhku tanpa cinta, kujelaskan padanya itulah hal terbaik bagi kami. Menurut penuturannya, setelah menikah dengan seorang guru teman sekolahnya dulu, ia membantu ekonomi keluarganya dengan membuat peternakan dan memajukan pertanian di kampungnya. Setelah menikah, ia pernah meneleponku dari kampungnya memberitahukan tentang pesta pernikahannya. Anna, suaminya Dicky dan putri mereka (anakku tentunya), serta Sinta hadir waktu itu. Namun yang membuatku terperanjat, ia berbisik di telepon mengatakan bahwa sebelum menikah ia sudah telat menstruasi. “Ini pasti anakmu, Gus, sama seperti Anna. Tapi aku puas, sebab walaupun tak bisa memiliki dirimu, ada bagian dirimu yang selalu hadir dalam hidupku,” tuturnya. Dari suaminya, ia mendapatkan dua orang anak. Anna sendiri, hanya sekali itu hamil, sebab seperti kata dokter, Dicky tak bisa membuahi rahim Anna. Untungnya tak ada keluarga mereka yang tahu hal itu, sehingga rahasia itu tetap tersimpan rapi.

“Ah, ternyata Tuhan menderaku dengan cara-Nya,” batinku. Entah mensyukuri atau mengutuki diri sendiri, aku kadang-kadang termenung memikirkan anak-anakku yang hadir dalam rumah tangga Anna dan Henny. “Maafkan ayah kalian ini, nak!” Bagaimana kelak tanggung jawabku di hadapan Yang Maha Kuasa?

Ayu pernah berkirim sms padaku memberitahukan ia akan menikah. Sejak itu tak pernah lagi ada kabarnya, walaupun beberapa kali kucoba menghubungi atau mengirim sms. Entah sudah berganti nomor, pikirku. Tetapi waktu ulang tahunku, ia kirim ucapan selamat lewat sms dengan nomor lain. “Gus, moga hidupmu bahagia, sayang! Kuharap kau dapatkan jodohmu yang baik. Sun sayang dari Ayu yang tak bisa melupakanmu.” Saat kutelepon, ia sempat menjawab dan lebih setengah jam kami bercerita melepas rindu. Ia katakan bahwa anaknya sudah lahir dari suami yang dulu dijodohkan orangtuanya. Aku tertawa waktu ia katakan bahwa wajah putranya mirip sekali denganku, “Mungkin karena aku sering memimpikan dan membayangkanmu, ya Gus?” katanya. Untungnya, sejak anak mereka lahir, suaminya tidak lagi main perempuan. Mungkin takut kena karma, kata Ayu. Sempat ia berbisik di telepon, “Walaupun suamiku baik, tapi ia tak sehebat kamu lho di ranjang, Gus. Kadang-kadang aku suka berkhayal main denganmu. Ah …. tau dech … dosa ya mengkhayal gitu?” tanyanya. Aku hanya tertawa mendengar ucapannya. Lalu ia katakan, “Gus, biar tidak ada yang curiga, jika aku rindu, aku akan menghubungimu dengan nomor yang berbeda-beda. Aku tak berani memberikan no. HP-ku yang tetap, takut pas kamu nelepon, yang ngangkat suami atau pembantuku.” “Nggak apa-apa Ay, aku tak mau kalau rumah tangga kamu berantakan karena aku,” jawabku waktu itu. Namun suatu waktu, Ayu datang ke Jakarta dan kami bertemu. Kisah ini merupakan suplemen tersendiri, walaupun tidak sepanas kisah-kisah sebelumnya.

Selesai.

No comments:

Post a Comment

Popular seribu